Bisnis Menangis Tumbuh Subur di Jepang

Ketika pria menangis/Ilustrasi.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Jepang memang negeri yang unik. Saat ini, di negeri Matahari Terbit itu sedang ramai tren, menyediakan seseorang untuk "menghapus airmata."

img_title Bunuh 19 Penyandang Cacat, Pria Jepang Dihukum Gantung

Namun para penghapus airmata ini tidak  bekerja sendirian. Mereka adalah bagian dari sebuah workshop, "The Crying Workshop," namanya. Melalui workshop ini, sekitar 10-15 orang peserta akan diberi tontonan film yang sangat sedih.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penyelenggara akan memilih dua film yang menguras airmata. Lalu saat peserta mulai menangis, maka ada fasilitator yang akan mendatangi dan menghapus airmata mereka menggunakan handuk kecil. Biasanya ketika satu peserta menangis, maka peserta yang lain ikut menangis.

img_title Amigos Kemang Tutup Setelah Warga Depok Positif Virus Corona

Diberitakan oleh BBC, 25 Agustus 2016,p enemu workshop ini adalah Hiroki Terai, seorang pebisnis yang menciptakan metode "The Crying Workshop" ini. Terai mengaku sangat ingin warga Jepang mengekspresikan emosinya. "Saya selalu tertarik untuk menggali kisah-kisah tersembunyi dari kehidupan seseorang," ujarnya. Latar belakangnya sebagai seorang anak yang tak memiliki teman membuat Terai tahu, banyak yang senasib dengannya, namun tak mampu menunjukkan emosionalnya.

"Waktu saya berusia 16 tahun, saya tak punya teman. Suatu hari saya makan di toilet, sendirian. Itu adalah situasi yang sangat sulit. Entah kenapa tiba-tiba saya merasa ingin memulai sesuatu untuk menemukan emosi sesungguhnya dari seseorang. Di permukaan mereka tersenyum, namun itu bukan selalu apa yang ia rasakan," ujarnya.

img_title Penampakan Restoran Paloma, Sempat Didatangi WN Jepang Positif Corona

Proyek pertamanya adalah merayakan perceraian. "Acara puncak dari perayaan perceraian adalah menghancurkan cincin nikah menggunakan palu," ujarnya. Namun banyak orang yang menganggap proyek tersebut sebagai hal yang kasar. Akhirnya Terai berubah haluan. Ia lalu mendirikan "The Crying Workshop" pada tahun 2013, dan menyasar seluruh warga Tokyo.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Workshop mulai dijalankan. Lalu orang-orang berdatangan dan menangis.  Setelah workshop selesai, mereka mengatakan, setelah itu merasa jauh lebih baik," ujarnya. "Satu hal yang menjadi masalah pada workshop ini adalah persepsi tentang pria yang menangis. Kebanyakan orang berpikir, pria yang menangis adalah pengecut atau cengeng," katanya.

Terai sengaja memilih pria-pria ganteng untuk menjadi fasilitator penghapus airmata. Mereka berasal dari beragam profesi. Ada yang menjadi model, dokter gigi, trainer gym, bahkan penyemir sepatu. Pria ganteng ia pilih karena  ia ingin mereduksi soal pria menangis adalah cengeng.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut