Bisnis Menangis Tumbuh Subur di Jepang

Ketika pria menangis/Ilustrasi.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Jepang memang negeri yang unik. Saat ini, di negeri Matahari Terbit itu sedang ramai tren, menyediakan seseorang untuk "menghapus airmata."

Namun para penghapus airmata ini tidak  bekerja sendirian. Mereka adalah bagian dari sebuah workshop, "The Crying Workshop," namanya. Melalui workshop ini, sekitar 10-15 orang peserta akan diberi tontonan film yang sangat sedih.

Penyelenggara akan memilih dua film yang menguras airmata. Lalu saat peserta mulai menangis, maka ada fasilitator yang akan mendatangi dan menghapus airmata mereka menggunakan handuk kecil. Biasanya ketika satu peserta menangis, maka peserta yang lain ikut menangis.

Diberitakan oleh BBC, 25 Agustus 2016,p enemu workshop ini adalah Hiroki Terai, seorang pebisnis yang menciptakan metode "The Crying Workshop" ini. Terai mengaku sangat ingin warga Jepang mengekspresikan emosinya. "Saya selalu tertarik untuk menggali kisah-kisah tersembunyi dari kehidupan seseorang," ujarnya. Latar belakangnya sebagai seorang anak yang tak memiliki teman membuat Terai tahu, banyak yang senasib dengannya, namun tak mampu menunjukkan emosionalnya.

"Waktu saya berusia 16 tahun, saya tak punya teman. Suatu hari saya makan di toilet, sendirian. Itu adalah situasi yang sangat sulit. Entah kenapa tiba-tiba saya merasa ingin memulai sesuatu untuk menemukan emosi sesungguhnya dari seseorang. Di permukaan mereka tersenyum, namun itu bukan selalu apa yang ia rasakan," ujarnya.

Proyek pertamanya adalah merayakan perceraian. "Acara puncak dari perayaan perceraian adalah menghancurkan cincin nikah menggunakan palu," ujarnya. Namun banyak orang yang menganggap proyek tersebut sebagai hal yang kasar. Akhirnya Terai berubah haluan. Ia lalu mendirikan "The Crying Workshop" pada tahun 2013, dan menyasar seluruh warga Tokyo.

"Workshop mulai dijalankan. Lalu orang-orang berdatangan dan menangis.  Setelah workshop selesai, mereka mengatakan, setelah itu merasa jauh lebih baik," ujarnya. "Satu hal yang menjadi masalah pada workshop ini adalah persepsi tentang pria yang menangis. Kebanyakan orang berpikir, pria yang menangis adalah pengecut atau cengeng," katanya.

Terai sengaja memilih pria-pria ganteng untuk menjadi fasilitator penghapus airmata. Mereka berasal dari beragam profesi. Ada yang menjadi model, dokter gigi, trainer gym, bahkan penyemir sepatu. Pria ganteng ia pilih karena  ia ingin mereduksi soal pria menangis adalah cengeng.

Situasi Jepang Usai Diterjang Topan Hagibis Terburuk 60 Tahun Terakhir

Bagi sebagian perusahaan, workshop ini dianggap efektif. "Biasanya mereka yang menangis bareng, mencurahkan isi hati mereka, setelah itu akan merasa dekat satu sama lain. Dan itu berpengaruh baik bagi kerjasama tim di kantor," ujar Terumi, salah seorang klien workshop tersebut.

"Orang Jepang tak pandai mengekspresikan emosinya. Mereka bekerja di sebuah perusahaan dan hanya sedikit mengekspresikan pendapat atau apa yang mereka rasakan," ujar Terumi menambahkan.

Antisipasi Topan Hagibis, Pemerintah Jepang Imbau Warganya Lakukan Ini

Terai juga mengatakan hal yang sama, selama ini banyak orang hanya menangis di rumah. Namun ia menginginkan orang juga menangis di kantor. "Banyak yang berpikir, ketika menangis di kantor, tak akan ada yang berani menyentuhmu. Itu sangat negatif. Namun saya tahu, setelah menangis, dan membiarkan orang-orang tahu kesedihan Anda, maka Anda akan merasa lebih baik pada siapa saja. Dan itu sangat baik buat perusahaan. Sikap itu akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik, dan membuat seseorang merasa menjadi lebih baik," katanya, menjelaskan.

Upaya Terai kini berhasil. Semakin banyak perusahaan yang mengundangnya untuk melakukan The Crying Workshop. Mungkin harapannya agar orang Jepang semakin mampu mengekspresikan emosinya, bisa semakin terwujud.

4 Fakta Kedahsyatan Topan Hagibis yang Akan Terjang Jepang

Bunuh 19 Penyandang Cacat, Pria Jepang Dihukum Gantung

Kasus ini adalah salah satu pembunuhan massal terburuk di Jepang.

img_title
VIVA.co.id
17 Maret 2020