Bantu Perangi ISIS, Wanita Ini Malah Terancam Dipenjara

Joanna Palani
Sumber :
  • Facebook/Joanna Palani

VIVA.co.id – Seorang wanita Denmark yang secara sukarela bersedia memerangi ISIS di Suriah dan Irak justru terancam di penjara selama enam bulan. Wanita ini ditahan petugas keamanan setempat karena melanggar larangan perjalanan.

img_title Tentara Amerika Berkhianat, Gabung ISIS dan Siapkan Rencana Teror

Dikutip melalui The Independent, Selasa, 13 Desember 2016, wanita berambut pirang bernama Joanna Palani itu harus dibawa ke tahanan, sementara Pengadilan Negeri Copenhagen sedang menyelidiki kasusnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gadis berusia 23 tahun ini bersikeras bahwa dia tidak menimbulkan risiko keamanan dan telah berjuang bersama kelompok Kurdi. Menurutnya, aksinya itu setara dengan koalisi pimpinan Amerika Serikat yang melibatkan Denmark. Namun, ia dituduh melakukan pelanggaran hukum yang memungkinkan pengenaan larangan perjalanan ke luar negeri untuk bergabung dalam konflik asing.

img_title Nigeria Berkabung, 100 Warga Sipil Dibantai Kelompok Militan

Pengacara Palani, Erbil Kaya mengatakan kepada surat kabar Berlingske, kliennya mengaku melanggar larangan perjalanan satu tahun yang dikenakan oleh otoritas Denmark. Dia menegaskan, Palani bepergian ke Doha pada 6 Juni 2016, tetapi tidak jelas kapan Palani akan pulang dari Qatar.

Palani dijadwalkan akan kembali diadili pada 20 Desember, dan dia harus menghadapi enam bulan penjara karena melanggar larangan bepergian yang dikeluarkan Denmark tersebut. Hal itu diberlakukan setelah mantan mahasiswa politik ini kembali dari pertempuran, membantu pasukan Kurdi di Suriah dan Irak.

img_title Jualan Baju Berlambang ISIS, 2 Wanita Cantik Ini Dihujat Habis

Palani memang punya darah Kurdi. Ayah dan kakek Palani merupakan pejuang Peshmerga keturunan Kurdi Iran. Setelah lahir, dan tinggal di sebuah kamp pengungsi PBB di Ramadi, Irak, selama Perang Teluk, Palani kecil kemudian pindah ke Kopenhagen. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dilansir melalui VICE, Palani mengaku mulai meninggalkan universitas pada musim gugur 2014 untuk bergabung bersama Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) di Suriah. Tujuannya bergabung, dia ingin mengalahkan ISIS, Presiden Bashar al-Assad, dan memperjuangkan hak asasi manusia semua orang.

Palani berjuang untuk YPG selama enam bulan sebelum pindah ke Irak dan berjuang bersama Peshmerga Kurdi. Kedua kelompok tersebut telah didukung oleh AS dan sekutu dalam pertempuran melawan ISIS. Tak hanya itu, keduanya juga diberi dukungan militer dan angkatan udara sebagai dasar koalisi internasional.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut