Perempuan Afghan Tak Bisa Gunakan Nama Sendiri
- REUTERS/Mohammad Ismail
VIVA.co.id – Tradisi patriarkhi yang kuat di Afghanistan membuat perempuan di negara tersebut kehilangan identitas dirinya. Nama mereka tak pernah disebutkan, bahkan di nisan kuburnya.
Biasanya, di setiap nisan seorang perempuan Afghanistan, maka nama yang tertera adalah "ibu, anak, atau saudara perempuan dari Mr.X," jadi bukan nama mereka sendiri. Di negara konservatif itu, perempuan yang menggunakan nama sendiri secara terbuka dianggap tak pantas, bahkan penghinaan.
Pada akta kelahiran, tak ada nama ibu yang disertakan. Begitu pula dalam undangan pernikahan, nama pengantin perempuan tak akan disertakan. Nama yang tertulis hanya nama ayah pengantin perempuan, dan nama calon suaminya.
Diberitakan oleh Al Arabiya, 29 Juli 2017, karena prihatin atas nasibnya, sejumlah perempuan Afghanistan berinisiatif membuat gerakan agar mereka bisa menggunakan nama mereka sendiri, bukan nama ayah, nama suami atau nama saudara laki-laki mereka. Gerakan itu ramai di media sosial dengan tagar #whereismyname. Gerakan ini bertujuan agar perempuan kembali memiliki hak untuk mengambil keputusan dalam hidupnya dan memunculkan dirinya dan kekuatannya.
"Masyarakat kita penuh dengan ketidakadilan bagi wanita, pada dasarnya semuanya tabu bagi wanita," ujar Bahar Sohaili, salah seorang aktivis yang terjun mendukung gerakan tersebut. "Dengan kampanye ini kami bertujuan untuk mengubah banyak hal bagi perempuan dan media sosial telah membuka jendela baru bagi generasi muda Afghanistan," ujarnya menambahkan.
Penyanyi Afghanistan populer Farhad Darya juga telah mendukung kampanye tersebut. Ia memasang foto dirinya dengan istrinya dan memberi judul "Farhad dan Sultana Darya."
Ribuan orang Afghanistan, termasuk penulis, wartawan dan pemusik telah mendukung gerakan tersebut di Facebook dan Twitter. Meluasnya akses ke internet di negara ini membuat gerakan ini dengan cepat membesar.
"Saya pergi ke kantor bank swasta untuk mengisi formulir, saat manajer menanyakan nama ibu saya, saya berhenti sejenak, karena saya telah benar-benar melupakan nama ibu saya. Tak seorang pun di tahun-tahun ini bertanya atau memanggilnya dengan namanya," kata Batool Mohammadi, anggota kampanye tersebut kepada Al Arabiya.