Sentimen Rasis, Tiga Mahasiswa China di Australia Dipukuli
- Shanghaiist
VIVA – Mahasiswa dan siswa China yang bersekolah di Australia kini mengaku takut untuk datang ke kampus mereka setelah mengalami kekerasan, ancaman dan pengeroyokan yang dilakukan oleh pemuda setempat karena status WNA.
Diberitakan oleh Shanghaiist, 7 November 2017, pada Senin malam pekan lalu, tiga pemuda China didekati oleh sekelompok remaja lokal saat mereka berada di Woden, sebuah persimpangan bus. Setelah meminta rokok, anak-anak Australia mulai meneriakkan kalimat-kalimat rasis pada mahasiswa China, juga meminta mereka "kembali ke negaranya."
Adu mulut akhirnya berubah jadi pertengkaran. Akibatnya, tiga mahasiswa China dan satu siswa SMA mengalami luka-luka. Salah seorang dari mereka juga dilarikan ke rumah sakit karena kemungkinan menderita buta temporer.
Salah seorang mahasiswa mengatakan, polisi tak terlalu merespon laporan mereka. Polisi datang setelah serangan terjadi dan pelaku sudah melarikan diri. Mereka juga mengatakan, polisi tak menanggapi secara serius komplain yang mereka sampaikan meski mereka mengaku terus diganggu dan mengalami aksi kekerasan dari remaja setempat setelah serangan itu.
Itu sebabnya, mereka memutuskan untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan tentang perundungan dan kekerasan yang mereka alami melalui WeChat, media sosial China. Unggahan tersebut segera menjadi viral dan akhirnya mendapat perhatian dari media di Australia.
"Mereka terus mengikuti kami hingga ke dalam, mereka terus berteriak saat kami sedang makan," ujar salah seorang siswa kepada Fairfax Media. "Mereka meminta US$2, kami sudah memberikan, tapi akhirnya mereka meminta US$20 dan terus meningkat. Saya tak tahu bagaimana caranya keluar dari masalah ini," ujar mahasiswa yang tak mau menyebutkan namanya itu.
"Pagi ini mereka mengikuti saya, berjalan di sekeliling saya, dan saya memutuskan untuk kabur," ujar mahasiswa lain. "Ini sangat menakutkan, dan saya merasa sangat tak nyaman di sini," ujarnya menambahkan.
Tiga hari setelah penyerangan di persimpangan Woden, Kedutaan Besar China di Canberra mengeluarkan pernyataan yang mengutuk serangan di Woden. Pernyataan itu juga mempertanyakan petugas Australian Capital Territory (ACT) dan polisi untuk menjaga keselamatan siswa China yang tinggal di kota tersebut. Pada saat yang sama, Asosiasi China Australia memberikan peringatan, Canberra bukan lagi kota yang aman untuk mahasiswa internasional.