Australia Merasa Berjasa pada RI, Protes Ba’asyir Dibebaskan

Kedutaan Besar Kedubes Australia di Jakarta.
Sumber :
  • VIVA.co.id / Renne Kawilarang

VIVA – Pemerhati hubungan internasional Ali Wibisono menganggap wajar pemerintah dan rakyat Australia, memprotes kebijakan Indonesia, yang membebaskan tanpa syarat narapidana terorisme Abu Bakar Ba’asyir.

img_title Yusril Tunggu Putusan Pengadilan AS soal Identitas Hambali, Singgung Potensi Kerugian bagi RI

Sebab, Australia merasa cukup berjasa atau bersumbangsih pada program penanggulangan terorisme di Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ali menyebut pemerintah Australia, merasa memiliki semacam investasi pada pemerintah Indonesia, dalam proyek penanggulangan terorisme. Sebagian program antiterorisme di Indonesia, bahkan dibiayai atau disumbang oleh Australia.

img_title Yusril Soal Kekhawatiran Wacana Pemulangan Hambali: Dia Harus Diberi Perhatian sebagai WNI

“Australia ikut membantu Indonesia (dalam program antiterorisme). Pembentukan Densus (88 Antiteror Polri) itu ada peran Australia,” katanya dalam perbincangan dengan tvOne pada Selasa pagi, 22 Januari 2019.

Dia menganggap, protes pemerintah Australia kepada Indonesia itu masih terkategori wajar. Bukan hanya karena merasa berjasa, melainkan juga lantaran pemerintah negeri Kanguru tak mau berjarak dengan suara mayoritas rakyatnya.

img_title Terpidana Teroris Bom Bali Ali Imron Ajukan Grasi ke Presiden Prabowo

Soalnya, sebagian masyarakat Australia memang ikut memprotes, terutama karena menganggap Ba’asyir ialah tokoh utama, alias mastermind peledakan bom di Bali dan di Hotel JW Marriot, Jakarta, yang sebagian korbannya adalah warga Australia.

Meski hukuman penjara Ba’asyir sekarang bukan karena kasus bom Bali dan JW Marriot, melainkan akibat terbukti membiayai pelatihan paramiliter di Aceh dan mendukung terorisme, menurut Ali, masyarakat Australia, telanjur menganggap pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia itu tokoh utama teroris di Indonesia.

Masyarakat Australia, katanya, akan menganggap kebijakan Presiden Joko Widodo itu sebagai bukti bahwa Indonesia tak sungguh-sungguh memerangi terorisme. Lagi pula, dia berpendapat, Indonesia selama ini diakui dunia berhasil dalam program antiterorisme.

“Masyarakat dunia melihat Indonesia, berhasil menangai terorisme, with or without (dengan atau tanpa peran) Abu Bakar Ba’asyir. Indonesia berhasil memisahkan sel Amrozi cs dengan Abu Bakar Ba’asyir,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, Ali meyakini, pemerintah Indonesia pasti lebih dahulu mengomunikasikan rencana pembebasan Ba’asyir kepada Australia. Kalau pun Australia sekarang memprotes cukup keras, itu hanyalah bagian dari taktik diplomasi dan agar pemerintah Australia tak terkesan mengabaikan aspirasi rakyatnya. Di saat yang sama, pemerintah Australia tetap menghormati kedaulatan Indonesia.

“Protes Australia itu juga (ibarat) kendali kepada Indonesia; Australia (seolah menyatakan), ‘Anda (Pemerintah Indonesia) berhak sesuai kedaulatan Anda, tetapi hati-hati!’,” kata Ali. (asp)

Terpidana hukuman mati kasus narkoba Freddy Budiman.

dr. Sumy Hastry Ungkap Perbedaan Proses Eksekusi Mati Freddy Budiman dan Pelaku Bom Bali I, Tak Disangka

Dokter forensik Polri, Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti, mengungkap perbedaan pelaksanaan eksekusi mati Freddy Budiman dengan para terpidana Bom Bali I.

img_title
VIVA.co.id
11 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut