Harga Rokok Murah Picu Anak Stunting

Ilustrasi merokok.
Sumber :
  • Pixabay/karosieben

Berdasarkan wawancara mendalam kepada keluarga penerima bansos di Kota Malang dan Kabupaten Kediri, dalam kondisi ekonomi yang sangat pas-pasan, mereka tetap menghabiskan sebagian pendapatannya untuk belanja rokok hingga dua bungkus per hari. 

img_title Gak Cuma Bikin Kurus, Ketahui Dampak Stunting Pada Masa Depan Anak

Bahkan keluarga penerima dana bantuan sosial masih belum mampu memenuhi kebutuhan pangan dan tempat tinggal yang layak karena anggaran untuk belanja rokok menghabiskan hampir setengah dari kebutuhan sehari-hari.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal ini sekali lagi membuktikan harga rokok masih terjangkau bagi kelompok masyarakat miskin. Sehingga rokok memang harus mahal jika ingin kesejahteraan masyarakat meningkat. Masyarakat sendiri banyak yang mendukung harga rokok naik.

img_title Larangan Perisa Rokok, Pedagang Khawatir Omzet Menurun

Hasil penelitian PKJS-UI terhadap 1.000 orang responden, 88 persen masyarakat mendukung harga rokok naik, bahkan 80,45 persen perokok setuju jika harga rokok naik. Semakin tinggi harga rokok, jumlah konsumsi rokok akan semakin turun. 

"Namun sebagian besar perokok mengaku akan berhenti merokok apabila harga mencapai Rp60.000-Rp70.000 per bungkus. Artinya, kenaikan cukai rokok harus signifikan membuat harga rokok menjadi lebih mahal” menurut Aryana Satrya, Ketua PKJS-UI.

img_title Merck Geber Edukasi soal Pemantauan Pertumbuhan Pada Anak
Ilustrasi Tembakau

Bukan Cuma Rokok, Tembakau Punya Potensi Jadi Bahan Baku Obat, Kosmetik hingga Bioenergi

Hilirisasi tembakau membuka peluang ekonomi di luar industri rokok. Tembakau berpotensi diolah menjadi bahan baku obat, kosmetik, bioenergi hingga bioplastik.

img_title
VIVA.co.id
2 November 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut