BI Pede Defisit Transaksi Berjalan 2020 di Bawah 2 Persen

Suasana pelabuhan peti kemas.
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

VIVA – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengaku optimis bahwa defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada tahun ini, akan berada di bawah 2 persen dari produk domestik bruto atau PDB.

img_title Hashim Ramal Dolar AS Bisa Tembus Rp22.000 Gegara MSCI, Begini Respons Bos BI

Sebab, berdasarkan data kuartal I-2020, angka CAD sebesar US$3,9 miliar atau 1,4 persen dari PDB, jauh lebih rendah dari defisit pada kuartal sebelumnya yang mencapai US$8,1 miliar atau setara 2,8 persen dari PDB. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Penurunan CAD itu dipengaruhi oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang, disertai dengan penurunan defisit neraca jasa dan neraca pendapatan primer," kata Perry dalam telekonferensi, Kamis 28 Mei 2020.

img_title Dolar AS Nyaris Tembus Rp18.200, BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Makin Tertekan

Perry menjelaskan, perbaikan surplus neraca perdagangan barang disebabkan oleh penurunan impor, seiring dengan permintaan domestik yang melambat. Sehingga, hal itu mengurangi dampak penurunan ekspor akibat kontraksi pertumbuhan ekonomi dunia. 

"Ini mengkonfirmasi bahwa CAD kita lebih rendah dari 1,5 persen (dari PDB), dan perkiraan kami tahun ini akan tetap terkendali di bawah 2 persen dari PDB," ujar Perry.

img_title IHSG Sore Ini Ditutup Menguat 0,95 Persen ke 5.439

Perry memaparkan, beberapa faktor yang mendukung terjadinya CAD adalah ekspor sedikit mengalami peningkatan, tapi faktor lain berupa penurunan impor juga memang lebih besar di kuartal I-2020 tersebut.

Dia menjelaskan, defisit neraca jasa juga membaik akibat dipengaruhi oleh penurunan defisit jasa transportasi, yang sejalan dengan penurunan impor barang. Hal itu terjadi di tengah penurunan surplus jasa travel akibat berkurangnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di samping itu, perbaikan defisit neraca pendapatan primer sejalan dengan aktivitas ekonomi domestik, yang juga turut mendorong penurunan defisit transaksi berjalan. 

"Dampak dari covid-19 ini menurunkan devisa masuk dari sektor pariwisata, karena ada pembatasan aktivitas, tapi juga diimbangi dari penurunan turis domestik yang keluar," ujarnya.

Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo di Rapimnas Kadin 2026

Rupiah Dibayangi Ancaman Rp21.000 per Dolar AS, Ini 4 Hal yang Harus Segera Dibenahi

Rupiah kini terancam melemah hingga angka Rp21.000 per dolar AS. BI sekarang semakin menegaskan stabilitas kurs, sementara pembenahan pasar modal menjadi sorotan.

img_title
VIVA.co.id
30 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut