Aspal Rumah Dinas Rp2 M, Gubernur Sumut Diminta Tiru Bobby Nasution

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi (kedua dari kiri) bersama Wali Kota Medan Bobby Nasution mengumumkan keputusan pemerintah tentang larangan salat berjemaah Idul Adha di kota Medan untuk pengendalian COVID-19, Jumat, 9 Juli 2021.
Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi (kedua dari kiri) bersama Wali Kota Medan Bobby Nasution mengumumkan keputusan pemerintah tentang larangan salat berjemaah Idul Adha di kota Medan untuk pengendalian COVID-19, Jumat, 9 Juli 2021.
Sumber :
  • VIVA/Putra Nasution

VIVA – Pengaspalan Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara sempat menjadi sorotan publik. Apalagi untuk aspal itu, sampai menelan anggaran hingga Rp2 miliar.

Kalangan akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU) pun, angkat bicara. Seperti disampaikan Dadang Darmawan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU. Ia menilai pengaspalan rumdis Gubernur Sumut, terlalu berlebihan di tengah ekonomi merosot sebagai dampak dari pandemi COVID-19.

"Jangan pula membuka pintu ke masyarakat sampai harus renovasi besar-besaran juga kan. Saya kira itu saja sih masukan saya," sebut Dadang, Jumat 17 Desember 2021.

Dadang membandingkan sosok kepemimpinan Edy Rahmayadi dengan Wali Kota Medan Muhammad Bobby Nasution. Dimana ia menjadikan Balai Kota Medan atau kantor Pemerintah Kota Medan, bisa digunakan untuk umum di akhir pekan.

Bobby menjadikan Kantor Balai Kota menjadi destinasi wisata baru di Kota Medan, dan dapat dikunjungi oleh seluruh masyarakat. Sehingga dinilai tidak ada batasan antara masyarakat dan pemerintah.

"Apa yang dilakukan wali kota itu, paling tidak gubernur berikan hal sama agar masyarakat bisa lebih dekat, bisa berdialog," kata Dadang. 

Bahwa yang dilakukan Bobby membuka pintu Balai Kota untuk masyarakat hendaknya dimanfaatkan dengan baik oleh warga Medan untuk mengadu, beri informasi dan mencari solusi.