Perpres Perlindungan Anak dari Game Online Segera Rampung

Ilustrasi orang sedang bermain game online
Sumber :
  • Freepik

Jakarta - Pemerintah berencana segera merampungkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang perlindungan anak dari game online. Tujuannya, demi merespons maraknya tindak kriminalitas seperti kekerasan, pornografi, pelecehan seksual dan perundungan yang dilakukan anak-anak di bawah umur akibat pengaruh game online.

img_title Steam Bagi-bagi Game Gratis Permanen, Begini Cara Mendapatkannya!

"Progress-nya sudah harmonisasi antara kementerian, lembaga dan pemerintah daerah. Sehingga tugas dan fungsi serta kewenanganannya tidak timpang tindih. InsyaAllah tahun ini ditargetkan rampung," kata Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA), Nahar saat dihubungi awak media, seperti dikutip Rabu, 17 April 2024.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ilustrasi bermain game online.

Photo :
  • Pixabay

img_title 10 Ide Base Minecraft Survival yang Bikin Petualangan Makin Seru, dari Rumah Gua hingga Pulau Jamur

Nahar menjelaskan, bermain game yang mengandung kekerasan berdampak sangat buruk pada perkembangan mental dan perilaku anak dan remaja. Menurut dia, pemerintah akan terus mengawasi konten atau game online yang mengandung kekerasan dan dapat mempengaruhi perilaku anak-anak.

“Pengaruhnya banyak dan sangat kompleks. Resiko yang dihadapi termasuk konten, perilaku, kontak fisik, perilaku konsumen. Konten-konten tidak sesuai dengan rating usia anak-anak harus diperketat dan diawasi. Sebab beresiko terhadap perkembangan perilaku yang dapat membahayakan dan mempengaruhi anak-anak,” jelas Nahar.

img_title Update Playoff MPL ID S18: ONIC Hadapi Alter Ego, Mampukah Sang Raja Langit Bangkit?

Ketika ditanya soal kemungkinan rekomendasi pemblokiran terhadap game seperti freefire, Nahar mengatakan game tersebut pengaruhnya banyak dan sangat kompleks. Sebab konten yang tidak sesuai dengan rating usia anak-anak. harusnya diperketat dan diawasi. 

“Resiko-resiko (game free fire) dari perkembangan perilaku yang dapat membahayakan dan mempengaruhi anak-anak,” tutur dia.

Menanggapi hal itu, Psikolog Stenny Prawitasari menilai, game berkonten kekerasan berisiko memengaruhi kesehatan mental dan emosional anak-anak.

“Game kekerasan yang intens, termasuk pertempuran dan penggunaan senjata berulang dapat membuat anak-anak menjadi desensitisasi terhadap kekerasan, di mana mereka mungkin menjadi kurang peka terhadap konsekuensi nyata dari tindakan kekerasan," ujar Stenny. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Stenny mengungkap, beberapa penelitian menunjukkan korelasi antara bermain game dan peningkatan agresi pada anak-anak. Dalam lingkungan yang kompetitif seperti game bergenre battle royale, anak-anak lebih rentan terhadap perilaku agresif, seperti berkata kasar atau mengekspresikan kemarahan saat kalah dalam permainan. 

“Ini juga dapat menyebabkan keterlambatan dalam perkembangan keterampilan sosial dan kemampuan berkomunikasi anak-anak,” tutur Stenny.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut