Iming-iming Mahar Besar-Hidup Enak, Wanita Indramayu Kena Modus Pengantin Pesanan di China

Darkem (53) tunjukan foto anaknya jadi korban TPPO pengantin pesanan di China
Sumber :
  • tvOne/Opi Riharjo

VIVA – Seorang perempuan muda asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan modus pengantin pesanan di China. Kisah pilu korban viral di media sosial setelah video dirinya menangis sambil meminta pertolongan agar dipulangkan ke Indonesia beredar luas.

img_title 9 Perempuan Dibawa KKB di Mimika, TNI Bergerak Cari hingga ke Pelosok Papua

Korban diketahui bernama Kusnia (21), warga Desa Jambak, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu. Dalam video yang viral, Kusnia tampak menangis histeris dan mengaku mengalami penderitaan selama berada di China setelah menikah dengan pria warga negara setempat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelum berangkat ke China, Kusnia dijanjikan kehidupan layak, kesejahteraan ekonomi, serta mahar dalam jumlah besar. Namun sesampainya di negeri tersebut, janji manis itu disebut tidak pernah terwujud. Korban justru mengaku kerap mendapat perlakuan kasar dari suami sirinya. Bahkan, Kusnia disebut mengalami tekanan hingga kekerasan saat menolak melayani keinginan suaminya.

img_title Bersatunya Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Bikin China Khawatir, Kenapa?

Dalam rekaman video yang beredar, Kusnia juga memohon bantuan kepada Gubernur Dedi Mulyadi agar dirinya dapat segera dipulangkan ke Indonesia.

Orang tua korban, Darkem (53), menjelaskan, anaknya diduga menjadi korban perdagangan orang dengan modus pengantin pesanan. Ia mengaku awalnya Kusnia ditawari bekerja di restoran sebelum akhirnya diarahkan untuk menikah dengan pria asal China.

img_title Satu Fitur Bikin 4,3 Juta Mobil Ditarik, Terbesar dalam Sejarah China

"Katanya nanti dapat mahar besar, hidup enak, enggak perlu kerja. Tapi kenyataannya bohong semua," ujar Darkem.

Menurut Darkem, seluruh proses keberangkatan hingga dokumen keberangkatan diduga diurus oleh agen. Bahkan ia mengaku tanda tangannya dipalsukan dalam sejumlah surat persetujuan. "Semua agen yang bikin. Surat persetujuan itu tanda tangan bukan saya. Saya enggak pernah tanda tangan," katanya.

Setelah tiba di China, Kusnia tidak diperbolehkan bekerja maupun keluar rumah. Paspornya juga ditahan oleh pihak keluarga suami. Korban bahkan disebut sering mendapat kekerasan fisik apabila menolak melayani suaminya. "Kalau enggak mau melayani ditendang, ditabok. Sekarang katanya makan cuma pakai roti sehari," tutur Darkem dengan nada sedih.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Keluarga berharap pemerintah Indonesia dapat segera membantu memulangkan Kusnia ke tanah air agar bisa kembali berkumpul bersama keluarganya di Indramayu. 

Laporan: Opi Riharjo/tvOne Indramayu

Ilustrasi bahagia.

Makin Tua Makin Bahagia, 5 Hal yang Baru Disadari Perempuan Setelah Menginjak Usia 40

Memasuki usia 40-an bisa membawa perubahan cara pandang perempuan. Berikut 5 kesadaran di masa paruh baya yang membantu hidup lebih tenang, bebas, dan bahagia.

img_title
VIVA.co.id
24 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut