Bersatunya Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Bikin China Khawatir, Kenapa?
- AI
VIVA – Pakta Pertahanan Bersama Mekah yang ditandatangani Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada 7 Agustus 2026 memunculkan dua pandangan berbeda.
Sebagian pihak menilai kesepakatan tersebut menjadi tanda semakin berkurangnya pengaruh Amerika Serikat di kawasan Teluk. Kondisi itu tentu terlihat menguntungkan bagi China yang selama bertahun-tahun mendorong terbentuknya dunia multipolar.
Namun, ada sisi lain yang justru membuat Beijing perlu waspada. China melihat tiga negara penting di dunia Muslim membangun kerja sama pertahanan tanpa melibatkan Beijing, seperti dilansir dari The Cairo Review. Tidak ada kursi, hak veto, maupun peran langsung China dalam struktur keamanan baru tersebut.
Dalam jangka pendek, Pakta Mekah memang memberikan sejumlah keuntungan bagi Beijing. Kesepakatan ini lahir setelah konflik berkepanjangan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran membuat Arab Saudi semakin mempertanyakan ketergantungannya terhadap perlindungan Washington.
Bagi China, berkurangnya ketergantungan negara-negara Teluk terhadap AS sejalan dengan narasi bahwa dominasi Amerika mulai melemah.
Pakistan juga menjadi faktor penting. Sebagai salah satu mitra terdekat China, Pakistan berpotensi mendapatkan dukungan finansial dari Arab Saudi. Kondisi tersebut dapat membantu memperkuat stabilitas ekonomi Islamabad sekaligus mengurangi beban China dalam mendukung negara tersebut. Namun, keuntungan itu tidak sepenuhnya berarti pengaruh China akan semakin besar.
Pakta Mekah justru berpotensi melahirkan poros strategis independen di dunia Islam. Arab Saudi memiliki modal, Pakistan menyediakan kekuatan militer dan kemampuan nuklir, sementara Turki membawa teknologi pertahanan serta pengalaman militernya.
Kesepakatan tersebut bukan blok pro-Amerika, tetapi juga bukan aliansi pro-China. Ketiga negara tampak ingin membangun kemampuan pertahanan sendiri tanpa terlalu bergantung pada kekuatan eksternal.
Di sinilah muncul persoalan bagi Beijing. China memang menginginkan multipolaritas, tetapi berharap negara-negara yang menjauh dari Washington akan semakin dekat dengan Beijing. Pakta Mekah menunjukkan kemungkinan berbeda: negara-negara tersebut bisa menjadi kekuatan mandiri yang tidak berpihak kepada siapa pun.
Perubahan ini paling terasa bagi hubungan China dan Pakistan. Selama ini, ketergantungan Pakistan terhadap China menjadi salah satu fondasi hubungan kedua negara.