Karhutla Makin Meluas, Kawasan Transmigrasi di Kalimantan Jadi Perhatian Menteri Iftitah
- istimewa.
"Jumlah TEP yang ada di Kalimantan Barat itu terbatas. Jadi satu tim itu sekitar enam orang, satu kawasan sekitar enam orang. Kami dalam konteks pelibatannya itu juga terbatas," ungkapnya.
Menurut Iftitah, kondisi tersebut membuat TEP tidak dapat ditempatkan sebagai unsur utama dalam pemadaman karhutla. Penanganan kebakaran membutuhkan peralatan yang memadai, sedangkan kekuatan TEP lebih diarahkan untuk mendukung masyarakat.
"Untuk menyelesaikan soal kebakaran hutan itu memerlukan alat yang cukup," katanya.
Iftitah juga menegaskan adanya perubahan fokus program TEP pada 2026. Jika sebelumnya berkaitan dengan riset dan pemetaan potensi ekonomi, kini TEP diarahkan pada pengabdian masyarakat.
"Enggak, sekarang ini, tahun ini TEP itu tidak lagi riset dan potensi ekonomi, tapi kepada pengabdian masyarakat," tegasnya.
Ia mengakui belum mendapatkan laporan langsung dari TEP yang berada di Kalimantan Barat mengenai bentuk bantuan yang telah dilakukan. Namun, aktivitas mereka disebut sudah dilaporkan melalui posko yang dimiliki Kementerian Transmigrasi.
"Saya terus terang saja belum terkonek langsung dengan TEP yang di Kalimantan Barat, tapi mereka laporan ke Posko, kita kan punya Posko, itu sudah berlangsung laporannya," tutur Iftitah.
Kementerian Transmigrasi selanjutnya akan mengecek lebih jauh langkah konkret yang telah dilakukan TEP di Kalimantan Barat. Iftitah menyatakan hasilnya akan disampaikan kepada media setelah memperoleh informasi yang lebih lengkap.
Dengan demikian, keterlibatan TEP dalam membantu masyarakat terdampak karhutla di kawasan transmigrasi Kalimantan Barat tetap dimungkinkan, tetapi dalam kapasitas terbatas. Sementara penanganan utama kebakaran tetap dilakukan oleh unsur BNPB, Basarnas, Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, serta personel gabungan di lapangan.