Swasembada Pangan Jadi Program Unggulan Terbaik Menurut Masyarakat
- Istimewa
Jakarta, VIVA – Program swasembada pangan menjadi salah satu capaian pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mendapat penilaian tertinggi dari publik.
Di sisi lain, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti serta Menteri Pertanian Amran Sulaiman menempati posisi teratas dalam penilaian kinerja menteri berdasarkan survei Arawicaksa Institute.
Hasil survei yang dilakukan pada (3-8/10/26) itu menunjukkan program swasembada pangan memperoleh skor 8,4 dari skala 0-10. Sementara itu, Abdul Mu’ti meraih skor 8,1 dan Amran Sulaiman mendapat nilai 8,0 dalam penilaian terhadap jajaran Kabinet Merah Putih.
Peneliti senior Arawicaksa Institute, Rudi Hartono, mengatakan sejumlah menteri dinilai mampu menghadirkan terobosan yang berkontribusi terhadap citra pemerintahan Prabowo-Gibran.
"Publik menyoroti kinerja sejumlah menteri dengan gebrakan dan terobosan yang membantu terjaganya citra pemerintahan Prabowo-Gibran," kata peneliti senior Arawicaksa Institute Rudi Hartono dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/26).
Tingginya penilaian terhadap program swasembada pangan sejalan dengan capaian produksi beras nasional yang dipaparkan dalam hasil survei tersebut.
Produksi beras pada 2025 disebut mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi pada 2026 diperkirakan naik tipis menjadi 34,77 juta ton, dengan surplus beras mencapai 3,56 juta ton.
Penyerapan beras oleh Perum Bulog juga disebut mencapai 3-4 juta ton setiap tahun. Sementara itu, harga pembelian gabah di tingkat petani ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.
Rudi menilai capaian tersebut tetap menghadapi tantangan, terutama perubahan kondisi cuaca dan ancaman terhadap produksi pangan.
"Di sisi lain, keberhasilan swasembada pangan dibayang-bayangi musim kemarau panjang dan ancaman El Nino, hingga serangkaian bencana alam maupun kebakaran hutan dan lahan," katanya.
Selain sektor pangan, revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran juga mendapat penilaian cukup baik dengan skor 6,5. Program pemeriksaan kesehatan gratis memperoleh skor 6,3, sedangkan Sekolah Rakyat mendapat nilai 6,0.
Abdul Mu’ti dinilai mendapat apresiasi antara lain karena perluasan program revitalisasi sekolah. Pada 2025, program tersebut menyasar 16.617 sekolah, sementara target pada 2026 diperluas menjadi 71.744 sekolah, termasuk sekolah terdampak bencana dan sekolah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).