Hendropriyono Jadi Guru Besar Intelijen Pertama di Dunia

Mantan Kepala BIN, Hendropriyono
Mantan Kepala BIN, Hendropriyono
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

VIVAnews - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono dikukuhkan menjadi Guru Besar Intelijen oleh Sekolah Tinggi Intelijen Negara, Rabu 7 Mei 2014. Hendropriyono akan menjadi satu-satunya dan pertama di dunia yang menjadi Guru Besar Intelijen.

"Untuk menghargai komitmen beliau maka Kemendikbud memberikan gelar guru besar intelijen. Ini kebanggaan karena kita telah memiliki guru besar BIN," kata Benny Mulyawan, perwakilan dari BIN saat memberikan sambutan.

Hendropriyono dikukuhkan menjadi guru besar karena komitmennya dalam bidang pendidikan, khususnya di bidang intelijen. Ketika menjadi Kepala BIN, Hendropriyono telah mendirikan Sekolah Tinggi Badan Intelijen Nasional di Sentul, Bogor.

Dengan membangun Sekolah Tinggi itu, diharapkan calon-calon anggota BIN lebih berkualitas. Tidak hanya berwawasan nasional tetapi internasional. Saat ini, ST BIN terakreditasi B di antara sekolah tinggi lainnya.

"Dalam UU, ST BIN ini adalah sumber utama insan intelijen. Seorang insan intelijen harus dapat bertahan. Dia dilepas seorang diri tanpa harus diketahui lawan, tidak boleh salah sedikitpun karena informasi yang dia berikan akan menjadi pijakan pengambilan keputusan oleh pemerintah," Benny menjelaskan.

Filsafat intelijen

Dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Intelijen, Hendropriyono memberikan orasi dengan judul "Filsafat Intelijen Negara Rebublik Indonesia". Filsafat intelijen sendiri belum pernah diketahui oleh tokoh-tokoh intelijen manapun.

Kata Hendro, intelijen adalah ilmu pragmatis. Sementara filsafat, hanya mengenal filsafat ekonomi, politik, lingkungan dan lainnya.

"Ketika saya memikirkan soal filsafat, hampir pasti mereka mengerutkan kening. Ada keraguan adanya filsafat intelijen. Pengetahuan filsafat jadi ilmu intelijen. Berdasarkan kontemplasi yang lama, kami mengangkat intelijen dalam sebuah filosofi. Saya bilang, saya punya filsafat pancasila, dan intelijen juga punya pegangan pokok, pancasila," kata Hendropriyono.

Menurut dia, intelijen tidak pernah mempersoalkan mengapa harus mengandung nilai praktis dalam fungsinya menyelamatkan manusia. "Kita menghadapi kesukaran untuk mejawab karena kita tidak pernah memeriksa intelijen dari sudut pandang filsafat," kata dia.

Intelijen, kata Hendropriyono memang bertugas mengumpulkan informasi secara cepat dan akurat. Menurut dia, dari epistemologi intelijen tidak bergumul pada ilmiah yang mengawang-awang. Intelijen tidak memiliki banyak waktu untuk mengkonfirmasi dengan metodologi apapun, tetapi mendapat sumber yang sahih dan berdasar logika.

"Meski membutuhkan kecepatan, tetapi tidak boleh mengesampingkan etika. Melindungi bangsa dan negara, pancasila harus menjadi pedoman," ujar dia.

Dalam acara pengukuhan ini, hadir banyak tokoh politik, yakni Gubernur DKI sekaligus bakal calon presiden, Joko Widodo, dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Serta tokoh nasional lain yaitu Wiranto, Sutiyoso, Try Sutrisno, Akbar Tandjung, Irman Gusman, Fuad Bawazier, dan Chairul Tanjung. Serta sejumlah menteri di antaranya, Menakertrans Muhaimin Iskandar, Menteri Perumahan Rakyat Djan Farid, dan Jaksa Agung Barief Arief. (umi)