Lumbung Kami Lenyap Dimakan Rayap
- ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
VIVA.co.id - Peluh masih mengucur di antara pelipis dan dagu Wak Thamrin. Pagi menjelang siang, tiga petak sawah miliknya baru usai ditanami bibit padi baru.
Bersama istrinya, Rubiah, ia bergantian mencucukkan batang padi setinggi 10 centimeter ke petak sawah berlumpur di Desa Lubuk Resam Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu.
Bagi Wak Thamrin, sawah adalah segalanya. Berpuluh tahun, ia hidup bersama empat anaknya yang kini sudah dewasa dari sepuluh bidang sawah miliknya.
Sepuluh tahun silam. Sawah-sawah itu, memang menggiurkan. Hasil panen melimpah ruah. Bahkan dari setiap kali panen, mereka bisa 'menabung' beras untuk dua tahun.
Itu pun belum ditambah dengan beras yang dibagi-bagi dan dijualnya di pasar. Sehingga memang sawah menjadi nadi bagi keluarga dari suku Serawai ini.
"Tapi itu dulu. Kini susah. Panen kami tak lagi melimpah. Dari dua kali tanam setahun, sekalinya bisa gagal. Atau kalaupun sukses, bulir padinya banyak yang ompong (kosong)," cerita Wak Thamrin akhir pekan lalu.
Keluh Wak Thamrin seragam dengan warga lainnya. Kini, desa yang hanya memiliki 75 kepala keluarga itu, separuhnya sudah meninggalkan sawahnya dan menggantikannya dengan tanaman keras seperti karet atau sawit.
Orang desa sudah enggan menanami sawah. Gagal panen dan musim yang beubah-ubah, membuat penduduk malas bersusah payah menceburkan diri ke lumpur sawah.
Dulu, menurut Wak Thamrin, meski desa mereka terpelosok jauh di dalam hutan dan hanya bisa diakses lewat berjalan kaki sehari penuh dari kecamatan. Desa mereka menjadi lumbung penghasil beras.
Lumbung-lumbung padi yang terbuat dari bangunan kayu ataupun semen, bertebaran di sekitar desa. Setiap hajatan besar, warga bisa urunan menyumbang beras dari lumbung padinya.
Namun kini semua berubah. Lumbung-lumbung penyimpan padi sudah ditinggalkan. Bangunannya dibiarkan rusak dan terbengkalai di pinggiran desa.
Beberapa diantaranya bahkan sudah lapuk dan rusak karena dimakan rayap dan usia. "Lumbung jadi sarang tikus dan rayap. Beberapa diantaranya sudah dirobohkan untuk dibuat rumah," ujar Wak Thamrin.
Iklim berubah