Hindari Sakit Jantung, Penyakit Paling Mematikan di Dunia

Hindari Sakit Jantung, Penyakit Paling Mematikan di Dunia
Sumber :

VIVA.co.id – Tahu kah Anda, penyakit yang paling mematikan saat ini? Jawabannya adalah penyakit jantung, utamanya penyakit jantung koroner (PJK).  

Update COVID-19 Hari Ini 6 Maret 2022: Kasus Positif Tambah 24.867

Kementerian Kesehatan mencatat, bahwa tren kematian saat ini justru bersumber dari penyakit tidak menular (PTM). Dalam beberapa tahun terakhir tingkat kesakitan maupun kematian PTM semakin meningkat bahkan melampaui penyakit menular. PTM kini bukan hanya menyasar orang tua atau melalui proses degeneratif, tetapi sudah mulai ditemukan pada penduduk usia lebih muda.

Faktanya, saat ini terdapat 10 PTM yang memiliki tingkat risiko kematian tinggi. Berdasarkan Sample Registrastion System (SRS) Indonesia 2014, dari 10 penyakit yang paling mematikan saat ini nomor satu adalah jantung. Disusul oleh peringkat selanjutnya secara berurut, yakni  komplikasi diabetes melitus, tuberkulosis, komplikasi tekanan darah tinggi, penyakit paru kronik, pneumonia, gabungan diare dan gastroentritis karena infeksi.

Kasus COVID-19 Terus Turun, Indonesia Sudah Lewati Gelombang 3?

Senada dengan data Kemenkes, Badan Kesehatan Dunia atau WHO mencatat dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia diperkirakan 31 persen disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler atau 17,5 juta penduduk dunia. Dari jumlah ini, sekitar 7,4 juta kematian disebabkan oleh penyakit jantung koroner dan sekitar 6,7 juta akibat stroke.

Penyakit kardiovaskuler adalah penyakit yang disebabkan gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah. Ada banyak macam penyakit kardiovaskular, tetapi yang paling umum dan paling banyak diketahui oleh masyarakat adalah penyakit jantung dan stroke. Kebanyakan penyakit ini terjadi akibat penumpukan deposit lemak pada dinding dalam pembuluh darah yang memasok jantung atau otak.

Kemenkes: Pandemi RI Masuk Praendemi saat Kasus COVID Terkendali

Munculnya penyakit jantung biasanya dipicu berbagai kombinasi faktor risiko, seperti merokok, diet tidak sehat, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, hipertensi, diabetes dan hyperlipidemia. Kalau faktor-faktor risiko ini bisa dikendalikan, risiko terkena penyakit kardiovaskuler semakin berkurang.

Mengenal Penyakit Jantung Koroner
Penyakit kardiovaskular umumnya yang terjadi adalah penyakit jantung koroner (PJK). Hal yang paling mengkhawatirkan adalah terjadinya serangan jantung atau kerap disebut angin duduk dan stroke. Pemicunya penyumbatan yang mengganggu aliran darah ke jantung atau ke otak.

Tanda-tanda terjadi serangan jantung:
1. Rasa sakit, nyeri atau tidak nyaman di tengah dada kurang lebih 20 menit.
2. Nyeri menjalar ke lengan kiri, bahu, punggung, leher rasa tercekik atau rahang bawah (rasa ngilu) kadang penjalarannya ke lengan kanan atau kedua lengan.
3. Sesak napas
4. Mual, muntah atau keringat dingin
5. Pusing atau pingsan

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan dr. Lily Sriwahyuni Sulistyowati MM menerangkan, kalau merasakan tanda-tanda tersebut, laksana awam yang boleh dilakukan adalah segera bawa ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat.

"Bila terasa sesak napas dalam perjalanan, tidurlah dengan bantal tinggi," ujarnya.

Sementara, lanjutnya, tata laksana awam yang tidak boleh dilakukan (serangan jantung tanpa henti jantung) adalah jangan diobati sendiri dan jangan dipijat atau kerikan. Perlu diketahui, beberapa anjuran bahwa saat mengeluh serangan jantung harus batuk-batuk adalah mitos.  

Hari Jantung Sedunia
Melihat fenomena PTM yang mematikan tersebut, Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat agar bisa terhindar dari PJK. Sebab, pada prinsipnya 80 persen PJK dapat dicegah.

Caranya? Dr. Lily mengatakan, kuncinya adalah segera ubah gaya hidup, kebiasaan dan diet. Diet sehat bisa dilakukan dengan memperbanyak konsumsi buah dan sayur, serta membatasi asupan gula, garam dan lemak. Anjuran konsumsi gula per orang per hari adalah 50 gr atau setara dengan 4 sendok makan peres atau rata. Sementara itu, konsumsi garam per orang per hari adalah 5 gr, atau setara 2.000 mg natrium atau 1 sendok teh peres atau rata (1 sendok kecil). Anjuran konsumsi lemak per orang per hari adalah 67 gram atau setara 5 sendok makan peres atau rata.

Dr Lily pun memberikan tips, agar terhindar dari PJK.
1. Tidak merokok
2. Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit (5 kali seminggu).
3. Jaga berat badan ideal
4. Kontrol tekanan darah <140/90 mmHg
5. Jaga kolesterol total <190 mg/dl
6. Pertahankan gula darah normal.
7. Hindari stres.

Belum lama ini, bertepatan dengan Hari Jantung Sedunia yang jatuh setiap tanggal 29 Agustus, tahun 2016 ini, tema yang diusung adalah ‘Power Your Life’ atau ‘Berdayakan Hidupmu’.

Semua pihak baik pemerintah, swasta maupun masyarakat dapat berpartisipasi dan mendukung upaya pencegahan dan pengendalian penyakit jantung. Upaya yang paling sederhana adalah meningkatkan kewaspadaan diri dengan menerapkan perilaku ‘Cerdik’ dan ‘Patuh’.  

Cerdik merupakan kepanjangan dari huruf 'C' yakni Cek kondisi kesehatan secara berkala, 'E' adalah Enyahkan asap rokok, 'R' adalah Rajin aktivitas fisik, 'D' adalah Diet sehat dengan kalori seimbang,'I' adalah Istirahat yang cukup.

Sementara perilaku ‘Patuh’, yakni kepanjangan dari huruf 'P' yakni Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter, huruf 'A' yakni Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur, huruf 'T' adalah Tetap diet sehat dengan gizi seimbang, huruf 'U' Upayakan beraktivitas fisik dengan aman, huruf 'H' Hindari rokok,  alkohol, dan zat kasinogenik lainnya.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id.   (webtorial)

Ilustrasi virus corona/COVID-19/masker.

COVID-19 Menuju Endemi, Aturan Wajib Masker Akan Dihapus?

Sesuai arahan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Indonesia tengah bersiap menuju endemi COVID-19.

img_title
VIVA.co.id
8 Maret 2022