Rupiah Tambah Loyo, Gubernur BI Tegaskan Tak Perlu Panik

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, hari ini kembali mengalami pelemahan. Rupiah merosot diperdagangkan antarbank pada level rata-rata Rp14.418 per dolar Amerika Serikat.

img_title Rupiah Melemah ke Rp18.156 per Dolar AS, Pasar Cermati Konflik AS-Iran hingga Inflasi Pangan Dalam Negeri

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memastikan, Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk terus melakukan langkah-langkah stabilitas nilai tukar rupiah. Baik melalui intervensi di pasar valas maupun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Sehingga, tidak perlu menimbulkan kepanikan, hari ini dan beberapa waktu lalu," ujar Perry di Gedung Bank Indonesia, Selasa 3 Juli 2018. 

img_title Rupiah Terancam Betah di Atas Rp18.000 hingga Akhir 2026, Dolar AS Makin Perkasa

Dia menjelaskan, dengan pembelian SBN di pasar sekunder melalui lelang, diharapkan investasi asing masuk. 

"Karena dari SBN, kami harapkan juga investasi asing masuk juga ke SBN dan itu juga menambah supply dari dolar, sehingga ikut juga menstabilkan nilai tukar rupiah," ungkapnya.

img_title Rupiah Menguat Tipis di 3 November 2026, Ini Sentimen yang Menggerakkan Kurs

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI hari ini, rupiah melemah dibandingkan perdagangan kemarin, yang tercatat di level Rp14.331 per dolar AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lebih lanjut, Perry menjelaskan, pelemahan mata uang yang terjadi saat ini adalah fenomena global. Namun, ditegaskan masih pada level yang bisa dikelola. 

"Kami harus mengukur segala sesuatu itu relatif, kalau negara lain juga melemah, enggak mungkin kita menguat sendiri," tambahnya. (asp)

Rupiah melemah terhadap dolar AS (foto ilustrasi)

Rupiah Menguat ke Rp18.132 per Dolar AS, Ini 3 Sentimen yang Menggerakkan Pasar

Rupiah menguat 0,15 persen ke Rp18.132 per dolar AS pada Rabu pagi. Pasar mencermati pemilu sela AS dan sejumlah data ekonomi yang memengaruhi arah suku bunga The Fed.

img_title
VIVA.co.id
4 November 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut