Rupiah Gagal Menguat Meski Neraca Dagang Surplus, Ini Penyebabnya
- ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Jakarta, VIVA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026). Pergerakan mata uang Garuda masih dibayangi ketidakpastian global, terutama perkembangan konflik Iran dan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).
Hal tersebut disampaikan Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi. Ia mengatakan, rupiah melemah 9 poin ke level Rp18.156 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat tertekan hingga 35 poin dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp18.147 per dolar AS.
Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan konflik Iran setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan lebih memilih memberikan waktu tambahan bagi diplomasi sebelum memutuskan kelanjutan tindakan militer. Sikap tersebut disampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui sambungan telepon pada Sabtu.
Prospek pembicaraan lanjutan memberikan sedikit kelegaan bagi pasar. Namun, risiko eskalasi konflik masih membayangi, terutama menjelang pemilihan paruh waktu AS atau midterm elections. Di sisi lain, pejabat Iran dan Qatar telah menggelar diskusi selama tiga hari berturut-turut untuk mengakhiri konflik, termasuk membahas upaya pembukaan kembali Selat Hormuz.
Ketidakpastian tersebut turut menjadi perhatian pasar energi. Serangan terhadap kapal tanker dan pembatasan ekspor minyak Iran telah meningkatkan biaya pengiriman serta asuransi.
Sentimen berikutnya berasal dari kebijakan moneter AS. Dua dari tiga pejabat The Fed menyerukan pengetatan kebijakan lebih lanjut. Presiden The Fed Dallas Lorie Logan mengusulkan dua kali kenaikan suku bunga tambahan, sedangkan Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem menginginkan kenaikan dalam waktu dekat.
Pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi AS pekan ini, termasuk PMI Manufaktur dan Jasa ISM, data ketenagakerjaan ADP, klaim pengangguran, JOLTS, serta laporan Nonfarm Payrolls.
Dari dalam negeri, fundamental ekonomi memberikan sejumlah sentimen positif. BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 surplus US$3,36 miliar atau sekitar Rp60,48 triliun. Nilai ekspor mencapai US$27,59 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor sebesar US$24,23 miliar.
Inflasi Oktober 2026 tercatat 0,22 persen secara bulanan dan 3,23 persen secara tahunan. Sementara itu, PMI Manufaktur S&P Global Indonesia naik menjadi 54,0 dari 52,4 pada September, menandakan aktivitas manufaktur masih berada di zona ekspansi.