Rupiah Bangkit Pagi Ini, Dolar AS Turun ke Rp18.141

Rupiah melemah terhadap dolar AS (foto ilustrasi)
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Kamis (29/10/2026), dengan penguatan setelah tertekan pada penutupan hari sebelumnya. Pergerakan mata uang Garuda masih berlangsung di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan konflik Timur Tengah, harga minyak, dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

img_title Dolar AS Nyaris Tembus Rp18.200, BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Makin Tertekan

Berdasarkan data perdagangan, rupiah pada pembukaan Kamis menguat 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp18.141 per dolar AS. Posisi tersebut membaik dibandingkan penutupan perdagangan Rabu, ketika rupiah berada di level Rp18.184 per dolar AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada perdagangan Rabu, rupiah melemah 28 poin atau 0,15 persen dari posisi sebelumnya Rp18.156 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap serangan kelompok Ansarullah Yaman atau Houthi terhadap kilang minyak di Arab Saudi.

img_title Rupiah Makin Tertekan, Dolar AS Tembus Rp18.174, Warga Ramai-Ramai Pindah ke Valas?

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi menyatakan pelemahan rupiah sebelumnya dipengaruhi serangan tersebut. "Pihak berwenang Arab Saudi tidak segera mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas dengan kapasitas 550 ribu barel per hari itu," ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (28/10/2026). 

Sebelumnya, Ansarullah juga menyerang stasiun pemompaan di sepanjang jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi. Jalur tersebut memungkinkan minyak mentah dialirkan tanpa harus melewati Selat Hormuz. Kelompok itu juga menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.

img_title IHSG Dibuka Melemah pada Rabu Pagi, Tekanan Rupiah hingga Sentimen MSCI Jadi Perhatian Investor

Rangkaian serangan tersebut memicu kekhawatiran mengenai keamanan jalur alternatif ekspor minyak, terutama ketika pengiriman melalui Selat Hormuz masih sangat terganggu akibat konflik yang lebih luas, termasuk yang melibatkan Iran.

Di tengah ketegangan tersebut, delegasi Arab Saudi, Turki, dan Pakistan telah mengadakan pembicaraan dengan pejabat Iran di Teheran. Kedua pihak sepakat melanjutkan diskusi untuk memperkuat perdamaian dan keamanan kawasan, meskipun belum mencapai hasil yang diharapkan.

Selain perkembangan geopolitik, investor juga mencermati keputusan kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat atau The Fed untuk memperoleh petunjuk mengenai prospek ekonomi dan permintaan bahan bakar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ibrahim mengingatkan, kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan inflasi dan memengaruhi ruang gerak bank sentral AS dalam menentukan kebijakan suku bunga.

"Harga minyak yang lebih tinggi dapat menambah tekanan inflasi, yang berpotensi mempersulit pilihan kebijakan bank sentral tersebut," kata Ibrahim.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut