Rupiah Menguat ke Rp18.123 per Dolar AS, Ini Faktor yang Memengaruhi

Rupiah melemah terhadap dolar AS (foto ilustrasi)
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Jumat (30/10/2026), dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan mata uang Garuda ini terjadi setelah rupiah sempat melemah pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, di tengah perhatian pasar terhadap arah kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

img_title Hashim Ramal Dolar AS Bisa Tembus Rp22.000 Gegara MSCI, Begini Respons Bos BI

Berdasarkan data perdagangan, rupiah menguat 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp18.123 per dolar AS. Posisi tersebut membaik dibandingkan penutupan perdagangan Kamis (29/10/2026), yang berada di level Rp18.137 per dolar AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada perdagangan Kamis, rupiah sebelumnya melemah 47 poin atau 0,26 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp18.184 per dolar AS.

img_title Hashim Peringatkan Rupiah Bisa Tembus Rp22.000, Ini Biang Kerok yang Disorot

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menyatakan pergerakan rupiah dipengaruhi pernyataan mengenai arah kebijakan The Fed serta perkembangan ekonomi AS setelah agenda Federal Open Market Committee (FOMC).

“The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75 - 4,00 persen pada 28 Oktober waktu AS. Namun, inflasi AS yang masih tinggi dan belum adanya kepastian mengenai kebijakan suku bunga selanjutnya membuat pergerakan dolar AS tetap sensitif terhadap data ekonomi dan imbal hasil obligasi AS,” ucapnya di Jakarta, Kamis.

img_title Hari Ini Rupiah Menguat Lawan Dolar AS, Begini Efek Keputusan Terbaru The Fed

Keputusan mempertahankan suku bunga tersebut disetujui melalui pemungutan suara FOMC dengan hasil 10 banding 2. Kebijakan itu diambil untuk mendukung mandat ganda bank sentral AS, yakni mencapai tingkat penyerapan tenaga kerja maksimal dan menjaga stabilitas harga.

Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh memperingatkan inflasi AS masih terlalu tinggi karena telah berada di atas target 2 persen yang ditetapkan bank sentral selama hampir enam tahun. Ia juga menegaskan kesiapan mengambil tindakan yang diperlukan untuk memulihkan stabilitas harga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Amru mengatakan, sejumlah faktor masih akan memengaruhi pergerakan rupiah, termasuk arus modal asing dan kebutuhan dolar di dalam negeri. Pasar juga mencermati data ekonomi AS yang dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

“Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh arus modal asing, kebutuhan dolar di dalam negeri, serta rilis data pertumbuhan ekonomi dan inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) AS,” ungkap Amru. (Ant)

Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo di Rapimnas Kadin 2026

Rupiah Dibayangi Ancaman Rp21.000 per Dolar AS, Ini 4 Hal yang Harus Segera Dibenahi

Rupiah kini terancam melemah hingga angka Rp21.000 per dolar AS. BI sekarang semakin menegaskan stabilitas kurs, sementara pembenahan pasar modal menjadi sorotan.

img_title
VIVA.co.id
30 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut