Perusahaan Aset Kripto 'Blusukan' ke Mahasiswa Kenalkan Blockchain

Ilustrasi teknologi Blockchain.
Sumber :
  • Institut Friedland

VIVA – Revolusi industri 4.0 seringkali dikaitkan dengan teknologi blockchain dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Aset kripto atau cryptocurrency kini makin dikenal di Indonesia. Ketertarikan mereka umumnya berawal dari keinginan untuk berinvestasi.

img_title Kemenag Tegaskan Status Halal-Haram Kripto Mengacu Fatwa MUI, Ini Syaratnya

Melihat potensi ini, tujuh perusahaan penyedia cryptocurrency memberikan edukasi terkait dunia blockchain dan cryptocurrency di Tanah Air.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketujuhnya adalah Coinvestasi bersama GoWithMi, Tezos, Bitcherry, Indodax, Gopax, dan Triv. Mereka pun menggelar yang namanya 'Roadshow Cumlaude Crypto'.

img_title Platform Aset Kripto Perkuat Layanan Berbasis Masukan Pengguna

Media Director Coinvestasi, Hendi Wishnu mengatakan, Cumlaude Crypto membantu meningkatkan penyerapan dan penggunaan teknologi blockchain, khususnya kepada para mahasiswa di Indonesia.

Teknologi ini memiliki konsep database yang sifatnya trusted atau terpercaya karena disimpan di beberapa tempat yang disebut dengan miner atau block producer.

img_title Aset Kripto, Saham hingga Emas Makin Terhubung

Dengan demikian, blockchain membuat bisnis model berubah. Menurut Hendi, Cumlaude Crypto membahas intisari teknologi blockchain dan aset kripto serta pemanfaatannya dalam dunia nyata secara jelas dan komprehensif.

"Ini termasuk membantu meningkatkan penyerapan dan penggunaan teknologi blockchain," kata dia, lewat keterangannya, Selasa, 1 Oktober 2019. Roadshow Cumlaude Crypto berlangsung sejak 5-14 September, dan berlanjut di Jakarta pada 20 September 2019.

Dihadiri kurang lebih 525 mahasiswa yang antusias mempelajari teknologi blockchain dan aset kripto dari Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Gadjah Mada, Telkom University, Institut Teknologi Bandung, dan Unika Atma Jaya Jakarta.

"Setelah seminar selesai, dilanjutkan dengan sesi kuis yang tujuannya menguji pemahaman peserta akan materi yang sudah diberikan. Peserta dengan pemahaman terbaik akan dinobatkan sebagai Cumlaude Crypto pada sesi 'wisuda' di akhir acara," tutur Hendi.

Meski begitu, kehadiran blockchain sebagai teknologi yang diklaim sulit untuk diretas diragukan oleh seorang pakar teknologi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Adalah guru besar ilmu komputer asal Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stuart Madnick, yang menyebut blockchain masih sangat rentan karena merupakan sebuah sistem baru.

Selain itu, Madnick juga mengaku berdasarkan hasil penelitian atas sejumlah kasus peretasan terhadap sistem blockchain yang terjadi antara 2011 sampai 2018 dengan sejumlah aspek. Mulai dari transparansi, kendali distribusi, anonimitas hingga keunggulan teknik.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut