Platform Aset Kripto Perkuat Layanan Berbasis Masukan Pengguna
- wikimedia
VIVA - Platform aset kripto OSL Indonesia berkomitmen untuk memberikan layanan sesuai kebutuhan investor Indonesia melalui program Voice of Customer (VoC).
Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama OSL Indonesia Ivan Arilito. "Program ini diperuntukkan bagi pengguna dan komunitas OSL Indonesia. Ini merupakan rangkaian komitmen jangka panjang kami di pasar aset digital Tanah Air," katanya.
Lebih lanjut, ia menuturkan, Voice of Customer (VOC) menjadi wadah bagi pengguna untuk menyampaikan masukan, kritik, dan saran yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan produk.
Bukan itu saja. OSL Indonesia juga menghadirkan Market Buzz, yang menyajikan berita, informasi pasar secara real-time guna membantu pengguna memahami perkembangan pasar dan mengambil keputusan investasi secara lebih terukur.
Ke depan, OSL Indonesia akan focus pada pengembangan platform berbasis kebutuhan pengguna, manajemen risiko, dan proses operasional yang berdasar pada perkembangan regulasi yang berlaku di Indonesia.
“Pertumbuhan industri aset digital perlu dibangun di atas kepercayaan, kepatuhan, edukasi, dan inovasi. Kami optimistis terhadap potensi pasar Indonesia dan akan terus mengambil pendekatan jangka panjang sebagai platform perdagangan aset kripto di Indonesia,” tutur Ivan.
Untuk menjawab kebutuhan pengguna yang beragam, OSL Indonesia mengembangkan layanan seperti Quick Buy/Sell untuk kebutuhan transaksi spot, Auto Invest melalui strategi DCA (Dollar-Cost Averaging) bagi investor jangka panjang, serta OSL Elite untuk pengguna dengan kebutuhan transaksi dan layanan yang lebih besar.
Dengan menggabungkan pengalaman global, kehadiran lokal, kepatuhan, dan pendekatan berbasis pengguna, OSL Indonesia berkomitmen untuk terus tumbuh bersama ekosistem dan berkontribusi pada perkembangan aset digital Indonesia yang semakin matang dan bertanggung jawab.
Melalui pendekatan tersebut, OSL Indonesia ingin membangun platform yang tidak hanya membawa pengalaman dan standar global ke Indonesia, tetapi juga terus berkembang berdasarkan kebutuhan pengguna lokal.
Namun, perlu dipahami bahwa perdagangan dan investasi aset digital memiliki risiko, termasuk fluktuasi harga, risiko kehilangan modal, likuiditas, teknologi, serta perubahan regulasi.
Oleh karena itu, pengguna perlu memahami karakteristik dan risiko aset digital, melakukan riset secara mandiri, serta mempertimbangkan profil risiko dan kondisi masing-masing sebelum mengambil keputusan.