Demokrat Beberkan Pasal-pasal Bermasalah dalam UU Cipta Kerja

Politisi Partai Demokrat, Benny K Harman.
Sumber :
  • VIVAnews/Tri Saputro

VIVA – Anggota DPR Fraksi Partai Demokrat Benny K Harman mengkritik Undang-Undang Cipta Kerja yang baru disahkan. Menurutnya, secara substansial, RUU Cipta Kerja lebih banyak mengakomodasi kepentingan pebisnis, sementara kelompok rentan seperti nelayan, petani, pekerja, UMKM, tidak diperhatikan.

img_title Airlangga Tegaskan Jam Kerja Tetap 40 Jam, Usulan 45 Jam Pengusaha Ikuti Aturan

"Hanya memberikan legalisasi, dekriminalisasi terhadap pebisnis-pebisnis yang selama ini melakukan perambahan hutan. Bagaimana kita menyetujui RUU seperti ini," kata anggota Komisi III DPR RI itu, Selasa, 6 Oktober 2020.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Benny, ketika masuk kembali ke Panja setelah tidak turut serta dalam pembahasan, Fraksi Demokrat juga meminta Klaster Ketenagakerjaan dikeluarkan dari RUU Cipta Kerja. Sebab, setelah dianalisis dan mendengar berbagai pandangan, termasuk dari kalangan pekerja melalui pimpinan-pimpinan federasi buruh, Demokrat melihat hak-hak pekerja tidak diperhatikan dalam RUU ini.

img_title Said Iqbal Minta Pembahasan RUU Ketenagakerjaan Tak Seperti Omnibus Law: Dibahas Tengah Malam di Hotel

Baca: UU Cipta Kerja: Jatah Libur Buruh Cuma 1 Hari dalam Sepekan

Sejumlah pasal dalam UU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan juga dianggap bermasalah dan merugikan. "Yang paling nyata adalah ketentuan tentang pesangon, misalnya. Pesangon itu sesuai undang-undang eksisting adalah 32 kali gaji. Ini dipotong, pengusaha hanya tanggung jawab 16 kali. Lalu pemerintah dikasih tanggung jawab 9 kali. Itu pun mekanismenya asuransi. Bayangkan, duit dari mana pemerintah bayar itu, apalagi dalam situasi ekonomi sulit ini," kata Benny.

img_title MK Kabulkan Sebagian Gugatan Kuota Internet Hangus, Operator Wajib Sediakan Opsi agar Sisa Kuota Tetap Bisa Dipakai

Berikut ini sejumlah pasal yang dipermasalahkan dalam UU Cipta Kerja yang mengatur tentang ketenagakerjaan:

- Pasal 59 yang mengatur tentang kontrak kerja. Dalam bagian ini, UU Cipta Kerja menghapus aturan mengenai jangka waktu perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau pekerja kontrak.

- Pasal 59 ayat (4) menyebutkan, ketentuan lebih lanjut mengenai jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaan, jangka waktu, dan batas waktu perpanjangan perjanjian kerja waktu tertentu diatur dengan peraturan pemerintah.

Padahal sebelumnya pada UU Ketenagakerjaan mengatur PKWT dapat diadakan paling lama dua tahun dan hanya boleh diperpanjang satu kali untuk jangka waktu paling lama satu tahun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketentuan baru ini berpotensi memberikan kekuasaan bagi pengusaha untuk mempekerjakan pekerja dengan kontrak tanpa ada batas.

- Pasal 79 tentang pemotongan hari libur dua hari dalam satu minggu sebagaimana telah diatur sebelumnya dalam UU Ketenagakerjaan. Pada Pasal 79 ayat (2) huruf (b) mengatur, pekerja wajib diberikan waktu istirahat mingguan satu hari untuk enam hari kerja dalam satu minggu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut