Kisah Klasik Kedelai, Tempe dan Tahu: Dilematis
- VIVA/Putra Nasution (Medan)
Dalam hal ini, diperkirakan harganya akan terus mengalami kenaikan hingga Mei 2022 yang bisa mencapai 15,79 dolar AS per bushel. Selanjutnya, akan terjadi penurunan pada Juli 2022 ke angka 15,74 dolar AS per bushel di tingkat importir.
Catatan VIVA, awal tahun lalu, kelangkaan kenaikan harga kedelai karena pasokan global yang terhambat pun terjadi. Pada 11 Januari 2021, Mendag Lutfi mengumumkan bahwa akan ada kenaikan harga tempe tahun karena impor kedelai terganggu.
Penyebabnya pun serupa. Kala itu Lutfi mengatakan, produksi kedelai di negara produsen yaitu AS, Brasil dan Argentina tergangu. Fenomena itu pun terjadi pada pertengahan 2021.
Empat opsi pedagang
Pengrajin tempe mengolah kedelai impor
- ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Seolah sudah terbiasa dengan kenaikan kedelai. Para produsen tempe dan tahu pun secara otomatis mengubah operasional bisnisnya, ketika harga bahan baku produksinya naik.
Pengamatan VIVA, ada empat opsi yang biasanya dilakukan pedagang merespons kenaikan harga kedelai. Yaitu Mengurangi produksi, mengecilkan ukuran, mogok produksi dan yang terakhir adalah menaikkan harga.
Seperti yang dilakukan Perajin tempe di Cianjur, Jawa Barat saat ini. Mereka memilih opsi mengurangi ukuran karena mahalnya kedelai sebagai bahan baku utama tempe dari Rp8.000 per kilogram menjadi Rp11.000 per kilogram, namun produksi tetap berjalan sesuai pesanan pasar.
"Hanya ukuran tempe dikurangi sedangkan harga jual di pasar tetap Rp8.000 per potong, meski harga kedelai impor naik, kami masih tetap memproduksi, namun terbatas untuk memenuhi pesanan dari sejumlah pasar dan pedagang," kata Perajin tempe di Kecamatan Gekbrong, Sri Hayati di Cianjur dilansir dari Antara.
Sementara itu, pengrajin tahu di Banda Aceh dan sekitar memutuskan untuk berhenti produksi dan menutup usahanya. Karena, semakin mahalnya harga kedelai yang menjadi bahan baku makanan tradisional tersebut.
Sekretaris Asosiasi Tahu Tempe Aceh Mulizar di Banda Aceh, Selasa, 15 Februari lalu mengatakan, selain harga semakin mahal, pengrajin tahu juga kesulitan mendapatkan kacang kedelai.
"Selain harga mahal, kacang kedelai juga sulit didapat. Akibatnya, sejumlah pengrajin tahu terpaksa menutup usahanya karena ketiadaan bahan baku," ungkapnya.
Sedangkan, pengusaha tahu di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mengurangi produksi menyusul harga kedelai yang semakin mahal. Selain itu mereka mengurangi produksi  dan imbas PPKM, guna menekan kerugian yang semakin besar.