Alasan Harga Keekonomian BBM RI Cukup Mahal Saat Ini

Nozzle BBM jenis Dexlite di SPBU Pertamina Abdul Muis
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

VIVA – Kenaikan harga Pertamax yang dilakukan Pertamina saat ini masih banyak disesalkan oleh masyarakat. Bahkan, masih saja ada yang berpandangan bahwa harga BBM tersebut dijual terlalu tinggi di Indonesia. 

img_title Strategi Pertamina Jaga Ketersediaan BBM: Tambah Pasokan hingga Jam Operasional SPBU

Padahal, penjelasan sederhananya kenaikan harga BBM saat ini lantaran harga minyak mentah dunia yang juga sedang tinggi. Dan tidak semua produksi minyak mentah nasional berasal dari lapangan migas Pertamina.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengatakan dengan tidak semua produksi minyak mentah nasional berasal dari Pertamina maka perhitungan harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM) berdasarkan biaya produksi minyak di lapangan migas saja dinilai tidak proporsional. 

img_title Pemerintah Bakal Tambah Kuota BBM Pertalite

Baca juga: Perintah Jokowi ke Menhub Usai Resmikan Bandara Trunojoyo Madura

Faktanya, sebagian minyak mentah yang menjadi salah satu komponen untuk BBM merupakan bagian pemerintah, produksi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) lainnya dan juga yang berasal dari pengadaan impor. 

img_title Kilang Balikpapan Rampung 99 Persen, Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman

Dengan demikian, semuanya mesti dibeli Pertamina dengan harga market sehingga biaya produksi BBM akan meningkat seiring kenaikan harga minyak mentah global.

Selain itu, Komaidi mengingatkan bahwa pada era 80-90 Indonesia memang penghasil minyak, yaitu mencapai 1,7 juta barel per hari (bph) dan anggota aktif Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Sedangkan konsumsi BBM domestik saat itu masih rendah, yaitu sekitar 300 ribuan bph.

“Namun sejak 2008 kita resmi keluar dari keanggotaan OPEC karena sudah menjadi net importir. Produksi dalam negeri tak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan yang pesat sehingga harus impor,” kata Komaidi dalam diskusi dengan media dikutip Rabu 20 April 2022.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Untuk itu, Komaidi menilai bahwa tudingan BBM terlalu mahal salah kaprah. Hal ini mengacu pada klaim pihak yang tidak paham yang menyebutkan bahwa produksi minyak mentah hanya Rp1.772 per liter. Padahal harga internasional per Maret 2022 mencapai Rp10.209 per liter.  

“Asumsi harga minyak mentah US$19,5 per barel itu cost production dari salah satu lapangan. Bukan harga jual minyak mentah. Acuannya sudah jelas, domestik itu ICP. Harga ICP Maret US$113 per barel, jauh di atas asumsi dalam APBN 2022 yang US$63 per barel,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut