Rupiah Terus Melemah, Industri Ini Terancam Ikut Kena Getahnya

Uang dolar AS dan rupiah.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/tom.

Jakarta - Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat diprediksi bakal berdampak ke sejumlah industri. Salah satu yang terkena imbas adalah industri manufaktur.

img_title Rupiah Loyo Lagi! Dolar AS Tembus Rp18.074, Ini Faktor yang Membayangi Kurs Hari Ini

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti mengatakan hal itu tak lain karena mayoritas bahan baku dari industri manufaktur umumnya berasal dari luar negeri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan demikian, penguatan dolar AS terhadap Rupiah secara otomatis akan mempengaruhi hal tersebut. Sebab, perbedaan kurs yang mencolok itu akan mempengaruhi aspek impor dari bahan baku itu sendiri.

img_title Transformasi IT Berbasis AI Jadi Solusi Perusahaan RI Menuju Autonomous Enterprise

"Karena nilai tukar Rupiah terhadap dolar terdepresiasi, sehingga industri manufaktur yang menggantungkan diri pada bahan baku impor akan sangat terdampak," kata Esther dalam telekonferensi di acara Kajian Tengah Tahun Indef 2024: 'Presiden Baru, Persoalan Lama', Jakarta, Selasa, 25 Juni 2024.

[dok. Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti]

Photo :
  • VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya

img_title Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Rp 18.033 per Dolar AS

Dia pun menegaskan periode pemerintahan selanjutnya harus mampu menjaga stabilitas Rupiah. Hal itu sekaligus perkuat fundamental perekonomian Indonesia.

Selain itu, Esther juga mengatakan industri manufaktur memiliki tantangan lainnya. Hal itu yakni karena fungsi intermediasi sektor keuangan domestik yang masih belum optimal.

Sebab, penyaluran kredit usaha nyatanya sampai saat ini masih tersegmentasi atau terbatas pada kalangan dan sektor tertentu. Terlebih, margin bunga yang ditanggung oleh pengusaha dinilai masih relatif tinggi.

Dengan demikian, berbagai hal itu jadi potensi yang dinilai akan turut mengancam keberlangsungan iklim usaha di dalam negeri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"NIM (net-interest margin) perbankan kita masih relatif tinggi, ditambah dengan adanya kebijakan tingkat suku bunga tinggi dan nilai tukar yang sangat volatile. Sehingga ini menjadi beban yang nanti harus diurai pada pemerintahan presiden terpilih," ujarnya.

Ilustrasi rupiah dan dolar

Rupiah Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS, Konflik Houthi dan Harga Minyak Jadi Sorotan

Rupiah sore hari ini ditutup melemah ke Rp18.080 per dolar AS akibat kekhawatiran pasokan energi global, kenaikan harga minyak, dan tekanan fiskal Indonesia.

img_title
VIVA.co.id
23 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut