Sukses Hilirisasi Menuju Industrialisasi

Peninjauan fasilitas pengolahan konsentrat tembaga di smelter Freeport.
Sumber :
  • Aditya Laksmana Yudha/VIVA.

Dalam perjalanannya, dinamika kondisi eksternal memunculkan peluang untuk mewujudkan hilirisasi. Perubahan geopolitik global, pandemi COVID-19, serta ancaman resesi membuat banyak negara sibuk mengatasi problematika yang mereka hadapi di negara masing-masing. 

img_title Transmigrasi Naik Kelas, Pemerintah Siapkan Kawasan Ekonomi Baru hingga Dorong Hilirisasi

“Empat tahun lalu saat menyetop ekspor nikel mentah, Uni Eropa menggugat ke WTO. Tapi setelah itu aman. Demikian pula saat kita menghentikan ekspor bauksit mentah, juga tidak ada gugatan. Hal yang sama terjadi saat kita stop ekspor tembaga,” ungkap Presiden.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Presiden Jokowi dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di sela acara peresmian smelter tembaga dan permurnian logam mulia Amman

Photo :
  • Dok. Amman

img_title Audit HAM Sektor Nikel Malut Dorong Penguatan Tata Kelola Hilirisasi Berkelanjutan

Memasuki industrialisasi

Program hilirisasi yang telah menampakkan hasilnya ini, merupakan tonggak bagi Indonesia memasuki era industrialisasi. “Jejak-jejak hilirisasi ini akan membawa Indonesia menjadi negara industri. Saatnya kita membangun industri. Dimulai dengan mengolah sumber daya alam mineral yang kita miliki, dengan tidak mengekspor bahan mentah,” tegas Presiden.

img_title Geber Hilirisasi Bauksit, MIND ID Siap Bawa RI Jadi Negara Pengolah Logam Tanah Jarang

Dengan hilirisasi, nilai tambah yang diperoleh diyakini akan mengalami lompatan besar. Nilai tambah dari ekspor nikel mentah, misalnya, hanya berkisar US$ 1,4 miliar hingga US$ 2 miliar, atau sekitar Rp 20 triliun hingga Rp 30 triliun.

“Tahun lalu kita stop (ekspor mentah), ada lompatan nilai tambah luar biasa yang kita peroleh menjadi US$ 38 miliar, atau hampir Rp 600 triliun,” ungkapnya.

Nilai tambah lain juga diperoleh dari penghematan devisa yang sebelumnya digunakan untuk mengimpor. Salah satunya kebutuhan aluminium yang rata-rata 1,2 juta ton per tahun, 56 persen di antaranya dipenuhi dari impor.

Dengan selesainya smelter bauksit SGAR yang menghasilkan aluminium, kebutuhan impor 56% bisa dipenuhi dari produksi aluminium dalam negeri. “Kita bisa stop impor, yang artinya akan ada penghematan devisa sekitar US$ 3,5 miliar atau lebih dari Rp 50 triliun,” ungkap Jokowi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain menuju industrialisasi, program hilirisasi juga akan mengubah struktur Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional. Selama ini, 56 persen PDB disumbang konsumsi domestik. Melalui hilirisasi dan industrialisasi, ekonomi nasional akan bertumpu pada kegiatan investasi dan produksi.

“Sebagai pemilik cadangan tambang mineral terbesar ketujuh di dunia, kita mengawali hilirisasi dan industrialisasi, sehingga ekonomi kita kelak bertumpu pada produksi, bukan lagi kegiatan konsumsi,” ujar Presiden.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut