Sukses Hilirisasi Menuju Industrialisasi
- Aditya Laksmana Yudha/VIVA.
Peresmian smelter Amman Mineral Nusa Tenggara di Sumbawa Timur, NTB.
- Aditya Laksmana Yudha/VIVA.
Produsen tembaga terbesar
Berbeda dengan smelter SGAR yang mengola bauksit menjadi bahan baku aluminium, smelter milik Amman dan Freeport keduanya mengolah konsentrat tembaga menjadi katoda tembaga, emas, perak, dan produk turunan lainnya.
Kehadiran smelter Freeport dan Amman tersebut, ke depan diharapkan menjadikan Indonesia sebagai negara produsen tembaga terbesar di dunia. Dengan kata lain, kebutuhan tembaga dunia bergantung pada Indonesia.
Smelter Amman memiliki kapasitas produksi 900.000 ton konsentrat tembaga. Nantinya, akan mampu menghasilkan 220.000 ton katoda tembaga, 18 ton emas, 55 ton perak, serta 850.000 ton asam sulfat.
Sedangkan smelter Freeport di Gresik, memiliki kapasitas pengolahan sebanyak 1,7 juta ton konsentrat tembaga yang dihasilkan perut bumi Papua. Dari smelter yang berdiri di atas lahan seluas 104 hektare tersebut, nantinya akan dihasilkan 900.000 katoda tembaga, 50 ton emas, dan 210 ton perak.
Presiden Jokowi bersama para Menteri saat peresmian produksi smelter PT Freeport
- Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden
Tak hanya itu, dari smelter Freeport ini ke depan diharapkan akan mampu mengolah konsentrat tembaga menjadi selenium, yang merupakan bahan baku utama semikonduktor. Hal ini akan membawa Indonesia menjadi pemain utama di semikonduktor.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengungkapkan, katoda tembaga yang dihasilkan smelter di Gresik, mampu mendukung kebutuhan tembaga untuk ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sekaligus kebutuhan transisi energi.Â
Dalam hal transisi ke renewable energy, Tony memastikan bahwa hasil produksi katoda tembaga Freeport di Gresik sesuai dengan yang dibutuhkan pembangkit listrik, masing-masing untuk PLTS bisa menghasilkan sekitar 200 Gigawatt (GW) energi listrik, PLT Bayu (tenaga angin) sebesar 600 GW, dan PLT Hydro atau air sekitar 800 GW setiap tahun.