UMKM Bisa Bangkrut Hanya Gara-gara Ini

Ilustrasi hacker.
Sumber :
  • Dok. Kaspersky

Jakarta, VIVA – Sebanyak 64 juta lebih pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi kekuatan penggerak digitalisasi nasional.

img_title OJK: Penyaluran Kredit Industri Perbankan Tembus Rp 9.135 Triliun Per Juli 2026

Sektor ini terbukti sangat tangguh dan berperan vital dengan kontribusi di atas 60 persen terhadap ekonomi nasional, dan dengan cepat mengadopsi teknologi digital.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Riset Cybersecurity Resilience in Mid-Market Organisations 2025 dari Palo Alto Networks menunjukkan Indonesia berada di posisi teratas untuk kawasan Asia Tenggara dengan nilai 20,65 dari 25, di mana para pelaku UMKM mengalokasikan 14,4 persen dari omzet mereka untuk investasi keamanan siber.

img_title Pertamina Patra Niaga Bagikan 8.100 Porsi Makanan di Harpelnas 2026, UMKM Masak Pakai Bright Gas Serentak di 8 Kota

Hal itu menandakan adanya kesadaran dari berbagai ancaman digital. Namun, realitanya, serangan siber kini makin canggih dengan memanfaatkan AI dan AI generatif untuk menjebak, melakukan peniruan suara, hingga pemalsuan identitas, sementara mayoritas UMKM masih belum siap menghadapi risiko ini.

Data ini didukung oleh Laporan Global Incident Response Unit 42 2025 Palo Alto Networks: Social Engineering Edition yang mengungkap social engineering sebagai cara paling efektif, mencakup 36 persen dari keseluruhan kasus kejahatan siber.

img_title Jangan Percaya Ada yang Ngaku-ngaku Perekrut BUMN atau Tech Titan di LinkedIn

Para hacker atau peretas kini memanfaatkan AI dan AI generatif untuk mengeksploitasi sisi emosional manusia lewat cara-cara yang semakin canggih, mulai dari memanipulasi hasil pencarian Google, membuat perintah (prompt) palsu, menyusup ke layanan customer service, sampai dengan melakukan penipuan menggunakan suara yang telah diimitasi oleh AI.

Teknik-teknik ini memungkinkan peretas mengambil alih sistem dengan cepat, dan lebih dari setengah serangan yang terjadi terbukti mengakibatkan kebocoran data atau melumpuhkan operasional hingga mengakibatkan kebangkrutan usaha.

Situasi ini menegaskan betapa krusialnya perlindungan yang solid bagi UMKM dengan sumber daya yang terbatas. Beberapa strategi berbasis AI yang digunakan para hacker atau peretas antara lain:

Pengimitasian dan Kloning Suara

Sebanyak 45 persen penjahat siber melakukan penyamaran sebagai pegawai perusahaan untuk mendapatkan trust, sedangkan 23 persen memanfaatkan teknologi duplikasi suara dan metode callback untuk menjebak korbannya.

Otomasi

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Aplikasi-aplikasi ini mempercepat proses serangan siber pada umumnya seperti menyebarkan email phishing, mengirim SMS palsu, dan mencoba-coba kata kunci yang lemah.

Fitur seperti ini memang bukan barang baru, tetapi sekarang sudah semakin canggih untuk meniru kebiasaan kerja perusahaan dan mengakali sistem keamanan standar.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut