Investor Indonesia Merapat! Bitcoin Ngamuk Lagi, Tembus Rekor Tertinggi

Uang digital vs Bitcoin.
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VIVABitcoin kembali membuat kejutan di tengah memanasnya kondisi politik di Washington DC dan kebuntuan anggaran pemerintah federal Amerika Serikat (AS).

img_title 'Economic D-Day' untuk Iran Dimulai

Harga Bitcoin meroket menembus US$125.000 (Rp2,1 miliar) pada perdagangan 5 Oktober 2025, mencetak rekor tertinggi baru (ATH) dalam siklus bullish saat ini, di mana Bitcoin masih diperdagangkan di atas US$123.000 (Rp2 miliar) dan mencatatkan kenaikan harga mingguan lebih dari 10 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Merespons kondisi tersebut, Fahmi Almuttaqin, analyst Reku, megatakan lonjakan harga tersebut tak lepas dari aliran dana masuk besar ke ETF Bitcoin spot AS.

img_title Harga Emas Hari Ini 24 Agustus 2026: Produk Antam Bersinar, Global Kinclong

Dalam periode perdagangan 1-3 Oktober, tercatat aliran dana masuk ke instrumen ETF Bitcoin spot mencapai lebih dari US$2,28 miliar, mengacu data Coinglass.

"Artinya, secara rata-rata, terdapat total lebih dari US$762 juta (Rp12,6 triliun) net buy Bitcoin dari para investor tradisional AS setiap harinya dalam tiga hari perdagangan terakhir," jelas Fahmi.

img_title Vladimir Putin dan Donald Trump Berpotensi Ketemu di KTT APEC China, Momen Besar untuk Indonesia

Yang menarik, reli ini justru muncul di tengah kondisi shutdown pemerintah AS yang kini memasuki minggu kedua.

Dengan lembaga pemerintah dan rilis data ekonomi tertunda, sebagian investor memandang keadaan ini sebagai pemicu impuls likuiditas positif, yang dapat menjadi landasan bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya di sisa tahun ini.

Selain Bitcoin, kinerja positif instrumen investasi juga dicatatkan oleh pasar saham AS dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 1,1 dan 1,3 persen, dalam satu pekan terakhir, menandai kenaikan keempat dari lima pekan terakhir.

Musim laporan keuangan kuartal III 2025 dimulai pekan ini dengan perusahaan besar seperti PepsiCo (PEP), Delta Air Lines (DAL), dan Levi Strauss (LEVI) dijadwalkan merilis laporan kinerja perusahaan pada 9 Oktober mendatang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Pasar tampak menilai bahwa shutdown tidak akan berlangsung lama atau menimbulkan risiko ekonomi sistemik. Sentimen 'no data, no problem' mencerminkan optimisme investor bahwa ketiadaan rilis data makro dapat memperkuat peluang The Fed melanjutkan pelonggaran suku bunga,” kata Fahmi.

Namun, di sisi lain, kekuatan pasar di tengah penundaan rilis data ekonomi resmi menciptakan risiko mispricing di mana pasar bisa terlalu optimistis tanpa dasar data aktual.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut