Rupiah Menguat Meski Pasar Merespons Negatif Soal Data Penjualan Emas oleh BI

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Sumber :
  • Pixabay/IqbalStock

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

img_title Rupiah Melemah ke Rp18.140 per Dolar AS, Harga Minyak dan Risiko Fiskal Jadi Sorotan

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.606 per Rabu, 8 Oktober 2025. Posisi rupiah itu tercatat melemah 46 poin, dari kurs sebelumnya di level Rp 16.560 pada perdagangan Selasa, 7 Oktober 2025.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara perdagangan di pasar spot pada Kamis, 9 Oktober 2025 hingga pukul 09.05 WIB, rupiah ditransaksikan di level Rp 16.558 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 15 poin atau 0,09 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.573 per dollar AS.

img_title Rupiah Tertekan Minyak Brent US$115, IHSG Berbalik Merah ke Level 5.436

Ilustrasi Uang Rupiah

Photo :
  • pixabay.com/WonderfulBali

Pengamat Pasar Uang, Ibrahim mengatakan, pasar merespon negatif terhadap pernyataan pejabat bank Indonesia(BI), yang menyatakan tidak pernah menjual emas batangan seberat 11 ton.

img_title Rupiah Terancam Tembus Rp18.200 per Dolar AS Pekan Ini, Ini Faktor Pemicunya

Namun, data penjualan cadangan emas terbaru IMF menunjukkan bahwa Bank Indonesia mengurangi cadangan emasnya sebesar 11 ton pada bulan Juli 2025. Hal ini mengindikasikan ada ketidak transparan BI dalam penjualan emas tersebut.

Kemudian, ada pula laporan Bank Dunia (World Bank) menyusul proyeksi dari Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF), Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), serta Japan Credit Rating Agency (Ltd. (JCR).

Dimana lembaga-lembaga tersebut memperbarui proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025, menjadi di bawah angka 5 persen. Proyeksi tersebut bahkan berada di bawah target pemerintah yang paling pesimistis setidaknya di angka 5 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, sejumlah indikator aktivitas ekonomi menunjukkan sinyal pelambatan momentum. Produksi industri juga dinilai kuat, namun tidak sejalan dengan keyakinan bisnis yang diperkirakan masih rendah ke depan. Ekspor juga diperkirakan tetap kuat di tengah goncangan tarif impor Amerika Serikat (AS), namun pesanan ekspor baru lemah.  

Bank Dunia memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi mirip dengan China, yang berada di sekitar 5 persen berkat dukungan belanja pemerintah. Bedanya, China diperkirakan bakal memperlebar defisit anggaran belanjanya dari sebesar 4,5 persen di 2019, menjadi 8,1 persen di 2025. Indonesia, lebih kearah belanja pemerintah daripada ukuran defisit, yang diperkirakan tetap berada di dalam aturan fiskal.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut