Prediksi Harga Bitcoin 2026, Saatnya Beli atau Jual?
- Dok. Istimewa
Jakarta, VIVA – Pasar kripto kini sangat berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Struktur pasar berubah secara fundamental setelah masuknya investor institusional, peluncuran ETF kripto, dan pergeseran strategi perusahaan besar.Â
Investor ritel yang dulu mengandalkan grafik harga, kini harus menyadari bahwa dinamika pasar telah berubah. Selain itu, kondisi makroekonomi global ikut memengaruhi daya tarik Bitcoin.Â
Harga emas yang naik signifikan, fluktuasi pasar saham, dan kebutuhan investor akan aset lindung nilai membuat Bitcoin semakin menarik sebagai alternatif. Namun, volatilitas tinggi tetap menjadi tantangan, sehingga strategi hati-hati sangat penting bagi investor jangka panjang.
Lantas, menjelang 2026 ini, pertanyaannya adalah, apakah Bitcoin masih layak dibeli, dijual, atau ditahan?Â
Melansir dari The Motley Fool, Sabtu, 27 Desember 2025, siklus empat tahunan Bitcoin yang dikenal sebagai halving, kini tidak lagi menjadi penggerak utama harga seperti dulu. Menurut analis VanEck dan 21Shares, halving masih penting secara simbolis, tetapi tidak lagi menentukan kenaikan harga secara signifikan.
Bitcoin dan aset kripto.
- Pioneering Minds
Emisi tahunan Bitcoin kini di bawah satu persen, lebih rendah dari inflasi emas, sehingga dampak halving di masa depan diperkirakan lebih kecil. Selain itu, pembeli Bitcoin telah berubah, di mana kini ETF, perusahaan besar, dan pemerintah menyerap lebih banyak koin dibanding jumlah yang ditambang, menandakan modal yang lebih stabil dan tahan lama.Â
Volatilitas Bitcoin juga mulai menurun, dengan koreksi maksimum 30 persen, lebih rendah dibanding 60 persen pada siklus awal, sehingga Bitcoin mulai berperilaku seperti aset keuangan matang dan semakin layak disebut "emas digital."
Investor besar semakin aktif menempatkan dana di Bitcoin. Strategy, misalnya, memiliki 671.268 koin senilai sekitar US$58,9 miliar atau setara Rp983 triliun. Sebelas perusahaan lain telah menempatkan minimal US$1 miliar atau sekitar Rp16,7 triliun ke dalam Bitcoin, termasuk Tesla dan Trump Media & Technology Group.Â
ETF Bitcoin juga mulai menguasai sekitar tujuh persen dari seluruh koin yang beredar, dan angka ini diperkirakan meningkat seiring layanan investasi besar seperti Morgan Stanley memberikan rekomendasi dana Bitcoin. Koin ini bahkan berpotensi menjadi lindung nilai terhadap gejolak ekonomi, mirip emas yang naik 71 persen tahun ini, dibandingkan kenaikan 16 persen indeks S&P 500.