BI Sebut Rupiah Sudah Undervalued, Apa Artinya?

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo
Sumber :
  • [tangkapan layar]

Karena itu, penting untuk memahami apa sebenarnya arti undervalued dalam konteks ekonomi. Berikut penjelasannya, sebagaimana dirangkum dari Financial Pipeline, Jumat, 24 April 2026.

img_title Rupiah Terancam Tembus Rp18.500 per Dolar AS, Isu Politik Dalam Negeri hingga Sentimen MSCI Jadi Pemicu

Apa Itu Undervalued?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Undervalued adalah kondisi ketika nilai suatu mata uang di pasar valuta asing lebih rendah dibandingkan nilai yang seharusnya berdasarkan faktor ekonomi fundamentalnya. Dengan kata lain, mata uang tersebut diperdagangkan di bawah nilai wajarnya.

img_title IHSG Anjlok 8 Persen dan Rupiah Menembus Rp18.021, Ini Pelajaran Penting Tentang Keuangan di Era Digital

Kondisi ini membuat daya beli mata uang tersebut terhadap barang dan jasa dari luar negeri menjadi lebih rendah. Sebagai contoh, jumlah uang yang sama akan membeli lebih sedikit barang dibandingkan jika mata uang tersebut berada pada nilai yang wajar atau bahkan overvalued.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan sebuah mata uang menjadi undervalued. Pertama, kebijakan moneter. Ketika suku bunga diturunkan, aset keuangan suatu negara bisa menjadi kurang menarik bagi investor asing sehingga mata uangnya melemah.

img_title IHSG Anjlok 8 Persen, Rupiah Tembus Rp18.021 per Dolar AS

Kedua, intervensi pemerintah atau bank sentral. Otoritas dapat membeli atau menjual mata uangnya sendiri di pasar valuta asing untuk menjaga nilai tukar tetap rendah, misalnya untuk mendukung daya saing ekspor.

Ketiga, kondisi ekonomi seperti perlambatan pertumbuhan, inflasi rendah, atau tingkat pengangguran tinggi juga dapat memengaruhi persepsi investor terhadap suatu mata uang. Keempat, surplus perdagangan. 

Negara dengan ekspor yang jauh lebih besar dibanding impor kadang mempertahankan mata uang yang lebih lemah agar produknya lebih kompetitif di pasar internasional. Kelima, stabilitas politik dan persepsi risiko. Ketidakpastian politik atau meningkatnya risiko geopolitik dapat mendorong arus keluar modal dan menekan nilai tukar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mata uang yang undervalued dapat memberikan keuntungan seperti mendorong ekspor karena harga barang dan jasa menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri. Kondisi ini juga bisa menarik investasi asing dan meningkatkan kunjungan wisatawan karena biaya menjadi relatif lebih murah.

Namun, ada pula risikonya. Barang impor menjadi lebih mahal sehingga dapat mendorong inflasi domestik. Ketergantungan berlebihan pada ekspor juga membuat perekonomian rentan terhadap perlambatan global. Selain itu, spekulasi di pasar keuangan dapat meningkatkan volatilitas nilai tukar.

Ilustrasi rupiah dan dolar

Rupiah Loyo Lagi! Dolar AS Tembus Rp18.074, Ini Faktor yang Membayangi Kurs Hari Ini

Rupiah melemah 14 poin ke Rp18.074 per dolar AS pada hari ini, Jumat 23 Oktober 2026. Simak faktor tekanan kurs, kebijakan BI, dan pergerakan obligasi.

img_title
VIVA.co.id
23 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut