Rupiah Terancam Tembus Rp18.000, Simak Prediksi Kurs Dolar AS Pekan Ini
- VIVAnews/Muhamad Solihin
Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin (12/10/2026). Mata uang Garuda berakhir di level Rp17.913 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah sebelumnya sempat menguat. Pengamat memprediksi rupiah masih bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini, dengan potensi dolar AS menyentuh Rp18.060.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Pergerakan dolar AS, perkembangan geopolitik, serta ketidakpastian pasar keuangan menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati.
Pada perdagangan Senin sore, rupiah melemah 14 poin ke level Rp17.913 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.899. Untuk perdagangan Selasa, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan ditutup melemah.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp.17.910 - Rp.17.960,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari keterangannya, Senin (12/10/2026).
Sementara itu, sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.780 hingga Rp18.060 per dolar AS. Proyeksi tersebut membuka peluang nilai tukar mendekati, bahkan melampaui, level Rp18.000 jika tekanan terhadap rupiah meningkat.
“Sedangkan perdagangan dalam minggu ini direntang Rp. 17.780 - Rp.18.060,” paparnya.
Indeks Dolar AS Menguat, Risiko Global Membayangi
Dari sisi eksternal, penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar. Ketidakpastian geopolitik juga meningkat menyusul perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk serangan terhadap bandara internasional Riyadh dan insiden yang melibatkan kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.
Gangguan terhadap jalur pelayaran minyak berpotensi menghambat pemulihan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah. Perkembangan harga energi dan risiko geopolitik turut menjadi perhatian pelaku pasar dalam menilai arah pergerakan mata uang.
Selain itu, pasar mencermati kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed. Sejumlah pejabat bank sentral mengisyaratkan suku bunga dapat kembali dinaikkan apabila perkembangan inflasi mendukung langkah tersebut.
Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyampaikan pandangannya mengenai kebijakan moneter AS, yang mana untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target, diperlukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.