Rupiah Melemah ke Rp17.918 per Dolar AS, Pasar Waspadai Data Inflasi AS
- VIVAnews/Muhamad Solihin
Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (14/10/2026). Pergerakan ini terjadi setelah rupiah ditutup menguat pada perdagangan sehari sebelumnya di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan pasokan energi global dan sejumlah data ekonomi AS.
Mengutip data perdagangan, rupiah dibuka melemah 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.918 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, rupiah berada di posisi Rp17.900 per dolar AS.
Sebelumnya, rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen pada penutupan Selasa dibandingkan posisi Rp17.913 per dolar AS pada hari yang sama.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai penguatan rupiah pada Selasa dipengaruhi pencabutan sementara sanksi AS terhadap bahan bakar minyak (BBM) Rusia.
"Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Rusia telah sepakat untuk memasok solar ke pasar global, dan pemerintahannya untuk sementara mencabut sanksi AS terhadap bahan bakar Rusia, sanksi yang sebelumnya diterapkan untuk memutus aliran pendapatan bagi Moskow guna membiayai perang di Ukraina," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (13/10/2026).Â
Pasokan tambahan dari Rusia dinilai dapat membantu meredakan ketatnya pasokan bahan bakar global. Perkembangan tersebut juga berpotensi mengurangi kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi yang sebelumnya turut menopang harga minyak mentah.
Namun, Ibrahim menyoroti masih adanya ketidakpastian terkait kesepakatan tersebut. Menurutnya, laporan serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina setelah pengumuman kesepakatan memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata energi kedua negara.
Selain itu, sejumlah anggota parlemen AS dari kedua partai menilai kesepakatan Presiden Donald Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin berpotensi melanggar undang-undang AS yang membatasi impor energi Rusia, kecuali Moskow menghentikan agresinya terhadap Ukraina.
Ibrahim juga menyoroti risiko terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk. Hal ini menyusul serangan Ansarullah Yaman terhadap bandara internasional Riyadh pada akhir pekan serta laporan serangan terhadap kapal tanker di dekat Selat Hormuz.
"Insiden-insiden tersebut mengancam membatalkan pemulihan pasokan dari Timur Tengah yang sempat terlihat pada bulan September, sekaligus memperkuat kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut di salah satu jalur transit energi terpenting di dunia," ungkap Ibrahim.