Sungai di Kaltim Surut, Angkutan Batu Bara Terhambat

Ilustrasi Batu Bara
Sumber :
  • Dok. SGER

Jakarta, VIVA – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengungkapkan bahwa saat ini angkutan batu bara di Kalimantan Timur (Kaltim) terhambat imbas penurunan debit air sungai atau sungai yang surut.

img_title Uji Coba di Kendaraan Bermotor Tembus 50 Ribu Km, ESDM: Bahan untuk B50 Terbukti Bagus!

Fakta tersebut disampaikan Yuliot ketika ditemui setelah The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu, 2 September 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Itu ya saya cek itu kemarin di Kalimantan Timur. Ya, justru, ya karena sungai mengering, tongkangnya enggak bisa jalan,” ujar

img_title Uji Tambang B50 Capai 1.000 Jam Tanpa Kendala, ESDM: Lewati Batas Uji yang Diperlukan!

Dengan demikian, Yuliot menegaskan bahwa kapal tongkang tersebut terhambat oleh kekeringan, bukan kebijakan terkait kuota produksi batu bara.

“Itu ya bukan karena dibatasi produksinya, tapi karena air untuk ngalirin tongkangnya enggak ada,” ucap Yuliot.

img_title ESDM Komitmen Perkuat Jangkauan Listrik: Kita Bangun Akses yang Lebih Baik

Kekeringan sungai di Kalimantan tak hanya berdampak pada mobilitas angkutan batu bara. ESDM juga mengidentifikasi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Kalimantan disebabkan oleh sungai yang surut, sehingga menjadi kendala bagi kapal distribusi energi.

“Di Kalimantan ini banyak terjadi. Saat ini, sungai ini mengalami kondisi surut, sehingga kapal-kapal yang biasanya mengirimkan melalui jalur sungai terkendala untuk proses pengiriman BBM,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8).

Laode menyampaikan permasalahan tersebut telah dimitigasi dengan memperbanyak truk-truk pengiriman BBM yang menggunakan jalur darat. Akan tetapi, volume angkut truk pengiriman BBM tidak sebesar angkutan sungai.

Wali Kota Samarinda, Kalimantan Timur Andi Harun meminta masyarakat menghemat penggunaan air bersih menyusul penyusutan debit Sungai Mahakam dan meningkatnya kadar klorida di air akibat kemarau panjang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Andi Harun di Samarinda, Sabtu (30/8), menegaskan kondisi Sungai Mahakam yang menyusut turut mempengaruhi operasional sejumlah fasilitas penyadapan (intake) air bersih di wilayah Palaran, Pulau Atas, Bukuan dan Bantuas.

Selain penurunan debit air, peningkatan kadar klorida menjadi faktor krusial karena berkaitan langsung dengan kualitas dan kelayakan air yang didistribusikan kepada masyarakat. (Ant)

Ilustrasi penerapan B50

Mandatori B50 Setop Impor Solar, ESDM: Negara Hemat Devisa hingga Rp 170 Triliun

Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menyatakan, dengan tidak adanya impor solar usai mandatori B50, negara dapat menghemat devisa hingga Rp 170 triliun.

img_title
VIVA.co.id
9 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut