Hadapi Cuaca Ekstrem, Pemerintah dan PLN Didorong Perkuat Keandalan Pasokan Listrik
- Dok. PLN
Jakarta, VIVA – Cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, menjadi perhatian sejumlah pihak terkait aspek keandalan sistem kelistrikan nasional terhadapnya.
Anggota Komisi XII DPR RI, Shanty Alda Nathalia mengatakan, kondisi cuaca mulai dari kemarau berkepanjangan hingga curah hujan ekstrem, dapat memengaruhi kemampuan pembangkit sekaligus mengganggu kontinuitas pasokan listrik kepada masyarakat.
Karenanya, Dia pun meminta pemerintah dan PT PLN (Persero) memastikan keandalan pasokan listrik tetap terjaga, terutama di tengah meningkatnya tantangan akibat perubahan kondisi cuaca.
“Cuaca ekstrem telah berdampak terhadap keandalan sistem kelistrikan di sejumlah wilayah," kata Shanty dalam keterangannya, Sabtu, 26 September 2026.
Anggota Komisi XII DPR RI, Shanty Alda Nathalia
- [Istimewa]
"Di Sulawesi Selatan misalnya, penurunan debit air akibat kemarau berdampak pada kemampuan PLTA dan menyebabkan pemadaman bergilir dalam beberapa waktu terakhir,” ujarnya.
Shanty berpendapat, berbagai langkah penanganan yang telah dilakukan perlu terus dioptimalkan, agar kondisi kelistrikan dapat kembali stabil. Salah satu yakni melalui upaya modifikasi cuaca, untuk membantu meningkatkan ketersediaan air dan mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air.
“Berbagai upaya untuk mengatasi kondisi tersebut terus dilakukan, termasuk melalui modifikasi cuaca. Langkah ini kami apresiasi dan perlu terus dioptimalkan agar keandalan pasokan listrik kepada masyarakat dapat segera pulih,” kata Shanty.
Dia menilai, kondisi tersebut juga perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan dalam menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, perencanaan sistem kelistrikan ke depan perlu mempertimbangkan berbagai risiko yang dapat memengaruhi produksi pembangkit.
“Ke depan, kondisi seperti ini harus menjadi evaluasi untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan menghadapi perubahan iklim. Pemerintah dan PLN perlu menyiapkan mitigasi dan pasokan pengganti ketika produksi pembangkit terganggu,” ujar Shanty.
Dia menambahkan, risiko terhadap sistem kelistrikan dapat muncul dari berbagai kondisi cuaca. Kekeringan pada periode El Niño misalnya, dapat berdampak terhadap ketersediaan air untuk pembangkit listrik tenaga air. Sementara itu, curah hujan ekstrem, banjir, dan longsor pada periode La Niña juga dapat mengganggu infrastruktur kelistrikan di sejumlah wilayah.
Karena itu, kesiapan menghadapi berbagai skenario cuaca dinilai penting agar gangguan pada satu sumber pembangkitan tidak langsung berdampak signifikan terhadap masyarakat.