IHSG Jumat Pagi Menghijau, Ada Level Penting yang Harus Dipertahankan

IHSG
Sumber :
  • Antara

Jakarta, VIVA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka perdagangan Jumat (2/10/2026) di zona hijau. Penguatan ini terjadi setelah IHSG ditutup melemah lebih dari 1 persen pada perdagangan sehari sebelumnya.

img_title IHSG Naik ke 5.305, Akankah Penguatan Bursa Saham RI Berlanjut?

IHSG dibuka menguat 8,58 poin atau 0,14 persen ke level 6.018,08. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 0,90 poin atau 0,15 persen ke posisi 593,28.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada perdagangan Kamis (1/10/2026), IHSG ditutup melemah 61,64 poin atau 1,02 persen ke level 6.009,50. Indeks bertahan di zona merah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan.

img_title IHSG Ditutup Menguat ke 5.282, Saham Astra dan BBCA Melonjak Hampir 8 Persen

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, menilai pelaku pasar masih mencermati perombakan kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto. Perubahan susunan pejabat pemerintahan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam melihat arah kebijakan ekonomi.

“Dari sisi domestik, pasar merespons perkembangan reshuffle kabinet yang kembali memunculkan uncertainty terkait arah kebijakan pemerintah ke depan,” ujarnya, Kamis. 

img_title IHSG Dibuka Melemah pada Rabu Pagi, Tekanan Rupiah hingga Sentimen MSCI Jadi Perhatian Investor

Menurut Nafan, perubahan kabinet dalam jangka pendek dapat memengaruhi pergerakan pasar karena investor perlu menilai kembali arah kebijakan dan koordinasi antarkementerian.

“Dalam jangka pendek, reshuffle kabinet dapat meningkatkan volatilitas karena pasar perlu menilai kembali arah kebijakan, koordinasi antarkementerian, serta implikasinya terhadap program fiskal dan ekonomi.”

Nafan juga menilai respons pasar terhadap perubahan kabinet perlu dilihat dari perkembangan selanjutnya, terutama terkait kebijakan dan pelaksanaan program pemerintah.

“Perkembangan reshuffle sendiri menunjukkan bahwa pasar langsung merespons perubahan tersebut, meskipun perlu dibedakan antara reaksi awal dan dampak fundamentalnya,” sambungnya. 

Selain faktor domestik, pasar saham juga menghadapi tekanan dari kondisi eksternal. Imbal hasil US Treasury yang masih tinggi, tekanan terhadap rupiah, serta ketidakpastian geopolitik menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.

Kondisi tersebut turut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi. Nafan menyebut investor masih cenderung melakukan penyesuaian portofolio dan memilih saham secara selektif.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Sikap investor saat ini menurut saya cenderung lebih defensif dan selektif,” kata dia. 

Menurut dia, sikap tersebut tercermin dari arus dana asing yang masih berada dalam tekanan serta pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar. “Hal ini tercermin dari masih berlanjutnya net foreign sell dan tekanan pada sejumlah saham big caps.”

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut