Harga Minyak Dunia Turun ke US$105 per Barel, Ini Pemicunya

Ilustrasi minyak dunia.
Sumber :
  • Freepik

Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026), setelah pelaku pasar mempertimbangkan peluang tambahan pasokan solar dari Rusia di tengah risiko gangguan distribusi energi di kawasan Teluk. Penurunan ini membuat harga minyak menuju pelemahan harian pertama dalam hampir sepekan.

img_title Harga Minyak Dunia Bertahan di Atas US$110, Serangan di Timur Tengah Bikin Pasar Was-was

Harga minyak mentah Brent turun US$1,30 atau 1,2 persen menjadi US$105,35 per barel, setara sekitar Rp1.885.765 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah US$1,25 atau 1,3 persen menjadi US$92,49 per barel, setara sekitar Rp1.655.571 per barel. Perhitungan menggunakan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelumnya, kedua patokan harga minyak tersebut naik hampir US$2 per barel pada sesi perdagangan sebelumnya. Harga penutupan Brent bahkan mencapai level tertinggi sejak (15/9/2026).

img_title Anjloknya Harga Minyak Dunia Bikin Emas Makin Mahal, Kok Bisa?

Pelemahan harga terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, Rusia telah sepakat memasok solar ke pasar global. Pemerintah AS juga untuk sementara melonggarkan sanksi terhadap bahan bakar Rusia yang sebelumnya ditujukan untuk membatasi pendapatan Moskow dalam perang melawan Ukraina.

Tambahan pasokan tersebut berpotensi meredakan ketatnya pasar bahan bakar global dan mengurangi sebagian kekhawatiran mengenai ketersediaan minyak yang sebelumnya menopang harga.

img_title Dua Kapal Terkena Serangan di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Naik

Namun, prospek kesepakatan energi Rusia dan Ukraina masih diragukan. Analis ING mengatakan, ada skeptisisme yang cukup besar terhadap gencatan senjata energi Rusia-Ukraina, terutama dengan adanya laporan bahwa Rusia telah menyerang sasaran energi Ukraina sejak Trump mengumumkan kesepakatan tersebut.

Sejumlah anggota parlemen AS dari Partai Demokrat dan Republik juga mempersoalkan kesepakatan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka menilai kesepakatan itu berpotensi melanggar undang-undang AS yang melarang impor energi Rusia hingga Moskow menghentikan agresinya terhadap Ukraina.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, risiko gangguan pasokan di kawasan Teluk masih membayangi pasar minyak. Kekhawatiran meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyerang bandara internasional Riyadh pada akhir pekan, sementara serangan terhadap kapal tanker dilaporkan terjadi di dekat Selat Hormuz.

Insiden tersebut mengancam pemulihan pasokan minyak Timur Tengah yang terlihat pada September dan meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur distribusi energi strategis dunia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut