Deretan Kebohongan Dwi Hartanto 'The Next Habibie'
- www.tudelft.nl
- Tidak benar bahwa saya terlibat dalam penyempurnaan teknologi pesawat tempur Eurofighter Typhoon generasi anyar milik Airbus Defence.
- Tidak benar bahwa saya telah mengantongi tiga paten di bidang spacecraft technology
- Tidak benar bahwa kuliah program Master (S2) saya dibiayai oleh pemerintah Belanda. Kuliah S2 saya di TU Delft dibiayai oleh beasiswa yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.
VI. Klarifikasi mengenai informasi yang disebarkan melalui akun media sosial
Dwi pernah memosting beberapa karyanya di media sosial Facebook. Dia mengakui informasi yang ia sebarkan tidak benar, Berikut beberapa klarifikasinya.
- Semua informasi mengenai persiapan dan peluncuran roket TARAV7s melalui rangkaian postingan saya yang dimulai pada tanggal 9 Juni 2015 adalah tidak benar. Namun sebenarnya informasi tersebut merupakan rangkaian persiapan peluncuran roket DARE Cansat V7s.
- Tidak benar bahwa saya pernah mengerjakan proyek satelit pesanan Airbus (AirSat-ABX),
sebagaimana tertulis pada postingan saya pada 3 Februari 2017.
- Tidak benar bahwa saya diwawancarai oleh TV Nasional Belanda NOS mengenai pengembangan
spacecraft technology dengan misi mendaratkan manusia di Planet Mars, sebagaimana tertulis pada
postingan saya pada 24 Februari 2017.
- Tidak benar bahwa saya menjadi pemenang kompetisi riset kategori spacecraft antar-Space Agency
dari selurah dunia seperti ESA, NASA, DLR, JAXA, UKSA, CNS A, KARI, AEB, INTA,
sebagaimana tertulis pada postingan saya pada 7 Mei 2017.
- Tidak benar bahwa saya merupakan Direktur Teknik ESA/ESTEC seperti yang tertera dalam ID card dalam foto postingan saya pada 15 Juni 2017.
Dalam klarifikasinya, Dwi memohon maaf sebesar-besarnya kepada semua pihak yang dirugikan atas informasi bohong yang dia sebarkan.
"Saya mengakui dengan jujur kesalahan/kekhilafan dan ketidakdewasaan saya, yang
berakibat pada terjadinya framing, distorsi informasi atau manipulasi fakta yang sesungguhnya secara luas yang melebih-lebihkan kompetensi dan prestasi saya. Saya sangat berharap bisa berkenan untuk dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya," katanya.
Dwi berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya kembali, akan terus berkarya dan berkiprah sesuai kompetensinya dan akan menolak semua pemberitaan dan undangan resmi di luar kompetensinya.