Saat Anda Online, Ini Lokasi Favorit Incaran Hacker

Ilustrasi hacker.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Andry Arifin

VIVA.co.id - Perangkat digital kini lengket dengan pengguna, ke manapun mereka pergi dan beraktivitas. Perangkat digital malah makin dekat dibandingkan dengan sahabat.

Ini Bukti Sistem Keamanan Informasi RI Lemah

Namun, menurut penelitian Kaspersky Lab dan B2B Internasional menunjukkan, perangkat digital yang lengket tiap hari itu bisa menjadi 'musuh' bagi pengguna. Kepercayaan ini dapat berakibat fatal dan berisiko karena perangkat tersebut dapat diretas dan berujung pada terbongkarnya informasi pribadi.

"Sahabat digital dapat menjadi 'teman tapi musuh'. Kegagalan dalam mendeteksi adanya potensi bahaya serta upaya melindungi perangkat dan informasi dengan seharusnya dapat berarti merelakan hilangnya informasi rahasia, uang atau bahkan identitas kita," tulis penelitian itu dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 12 November 2015.

Cegah Cyber Crime, Pekerja IT BEI Bakal Disertifikasi

Studi ini menemukan 87 persen orang menyimpan data rahasia, penting dan terkadang data yang tak dapat digantikan dalam ponsel pintar mereka, mencakup password, pesan, foto, kontak, serta berkas penting lainnya.

Satu dari empat mengatakan, di dalam perangkat pribadi mereka terdapat informasi sensitif milik mereka yang tidak ingin diketahui orang lain. Terlebih, perangkat tersebut dibawa dan digunakan di mana saja, termasuk di tempat kerja (52 persen), di dalam mobil (41 persen), transportasi umum (39 persen), di tempat tidur (58 persen) dan bahkan saat berada di dalam toilet (29 persen).

Padahal saat berada di luar rumah, perangkat pengguna berpotensi terkena berbagai risiko seperti rusak, hilang dan dicuri, dan juga diretas untuk mencuri data atau memata–matai pengguna.

Email Dibajak, Uang Ratusan Juta Digondol 'Hacker'

Perangkat yang menggunakan koneksi Wi-Fi secara bebas sangat rentan terhadap serangan. Sayangnya, hanya beberapa orang yang mengambil tindakan untuk mengurangi risiko ini.

Studi Kaspersky Lab menunjukkan, bahwa 26 persen pengguna melakukan adaptasi saat online dengan menggunakan jaringan Wi-Fi umum yang tidak aman, meskipun ada fakta bahwa para peretas tetap bisa mencuri data dan password pengguna. Hanya hampir sebagian (47 persen) pengguna yang menggunakan fitur keamanan pada perangkat yang mereka gunakan, seperti kemampuan remote blocks atau find-my-device.

Dampaknya, menurut penelitian tersebut, sebanyak seperempat dari perangkat yang telah ditemukan setelah hilang atau dicuri mengalami kebocoran informasi atau rahasia pribadi.

Tapi, menggunakan perangkat di rumah juga tak jadi jaminan luput dari peretas. Bahkan, di rumah sekalipun risiko dan tantangan yang dihadapi berbeda, bahkan terkadang lebih berbahaya, khususnya di lokasi yang sensitif seperti tempat tidur dan toilet, di mana perangkat yang berhasil diretas dapat dengan mudah mengubah webcam ke pengguna.

Untuk itu, Kaspersky Lab merekomendasikan pengguna untuk menyetel password kuat para perangkat dan juga akun online dengan menggunakan layanan keamanan tertentu. Kaspersky juga menghimbau agar pengguna hati-hati saat mengakses situs serta mengunduh aplikasi lewat jaringan WiFi yang tak aman.

(mus)

Kantor Yahoo di AS

Hacker Jajakan 200 Juta Akun Pengguna Yahoo

Dijual di dark web seharga 3 bitcoins.

img_title
VIVA.co.id
4 Agustus 2016