Industri E-Commerce Berharap Tak Terdampak Resesi

E-commerce.
Sumber :
  • Unsplash

VIVA Tekno – Laporan SEA e-Conomy 2022 yang dikerjakan Google, Temasek, serta Bain and Company menunjukkan bahwa pendapatan ekonomi digital di Indonesia tahun lalu mencapai US$77 miliar (Rp1.171 triliun).

img_title Transaksi Harbolnas 2026 Ditargetkan Tembus Rp 40 Triliun, Airlangga: Demi Dukung Ekonomi 6 Persen

Jumlah pendapatan tersebut naik 22 persen dari 2021 yang secara total memiliki pendapatan ekonomi digital sebesar US$63 miliar (Rp958 triliun).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) meyakini industri e-commerce tetap bisa bertumbuh di 2023 meski di tengah isu resesi ekonomi yang merebak, berkaca dari evaluasi pendapatan ekonomi digital Indonesia tahun lalu yang menunjukkan hasil baik.

img_title Ekspansi ke Thailand, AHA Commerce Bawa Model Pengelolaan E-Commerce RI ke Pasar Asia Tenggara

"Ketika ada resesi tentu akan ada pengaruh. Karena, resesi ini berdampak ke semua aspek ekonomi di Indonesia dan bukan cuma e-commerce saja. Beberapa di antaranya seperti penurunan daya beli masyarakat dan beberapa faktor makro ekonomi pasti memengaruhi kinerja bisnis," kata Wakil Ketua Umum ideA Budi Rimawan di Jakarta, Rabu, 15 Februari 2023.

Optimisme terhadap industri e-commerce pada tahun ini pun semakin diperkuat dengan hasil evaluasi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2022 yang menunjukkan kinerja positif.

img_title Penerapan Pajak E-Commerce Berpeluang Kembali Ditunda, Purbaya Ungkap Alasannya

Pada laporan yang dikerjakan oleh idEA bersama NielsenIQ, terungkap bahwa nilai transaksi pada 2022 menembus angka Rp22,7 triliun, naik 26 persen dari capaian di 2021 yang mencapai Rp18,1 triliun.

"Evaluasi Harbolnas tahun kemarin menunjukkan peningkatan transaksi yang cukup baik. Itu di luar dugaan," ujar Budi. Dari sisi pelaku usaha, ia menyebut e-commerce masih menjadi medium yang paling inklusif untuk para pelaku usaha memperluas pasar dan menjangkau lebih banyak pembeli potensial.

Sementara dari sisi konsumen yang sudah terbiasa menggunakan layanan e-commerce, Budi menilai mereka tidak akan serta-merta meninggalkan layanan pasar niaga daring karena sudah terbiasa dengan cara belanja yang mudah meskipun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah dihentikan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

 

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman

Menteri Maman: Implementasi Diskon 50 Persen Biaya E-Commerce Bagi UMK Tunggu Jadwal Integrasi

Maman mengatakan, implementasi diskon 50 persen biaya layanan e-commerce bagi usaha mikro dan kecil (UMK) yang menjual produk dalam negeri, telah mencapai 95 persen.

img_title
VIVA.co.id
27 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut