Penyakit Stephen Hawking dan Bukti Hadis Rasulullah
- Facebook/Stephen Hawking/CERN/Laurent Egli 2012
VIVA – Fisikawan terkenal Stephen Hawking meninggal pertengahan tahun ini karena komplikasi penyakit yang telah dideritanya selama puluhan tahun, Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS).Â
Penyakit yang dikenal sebagai penyakit saraf motorik atau penyakit Lou Gehrig's itu membuat Hawking lumpuh secara bertahap selama beberapa dekade terakhir. Hawking didiagnosis penyakit ALS saat berusia 21 tahun pada 1963. Pada waktu itu dokter memvonis harapan hidupnya tinggal dua tahun atau sampai 1965 saja. Namun nyatanya, fisikawan ini bisa hidup hingga 2018.Â
Selama ini penyakit ALS dikenali sebagai penyakit kelumpuhan akibat gangguan motorik pada otak atau sumsum tulang belakang. Namun belakangan studi dari gabungan tim peneliti Indonesia dan luar negeri menemukan fakta lainnya.Â
Dalam studi Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) Linked to Intestinal Microbiota Dysbiosis & Systemic Microbial Infection in Human Patients: A Cross-Sectional Clinical Study, ditemukan penyakit ALS itu biangnya adalah infeksi usus. Studi tersebut dipublikasikan di jurnal ClinMed International Library.
Studi tersebut dilakukan oleh David A. Steenblock (Steenblock Research Institute Amerika Serikat); Taruna Ikrar dan Andrew S. San Antonio (International School of Biomedical Science Pasific Health Science University Amerika Serikat dan Cellcure Center RSPAD Indonesia); Elfi Wardaningsih (Neurodegenerative Disease Research Program Pasific Health Sciences University Amerika Serikat): serta Masoud J. Azizi (Neurodegenerative Disease Research Program Pasific Health Sciences University Amerika Serikat dan International School of Biomedical Science Pasific Health Science University Amerika Serikat).Â
Taruna Ikrar mengatakan, dari studi timnya menemukan perspektif lain dari penyakit ALS yang selama ini cenderung didekati sebagai penyakit saraf.
Salah satu temuan mereka penyakit non infeksi (neurodegeneratif) ini disebabkan oleh mikroba infeksi.
Dalam studi itu, menemukan bukti masalah usus turut berkontribusi dalam penyebab dan perkembangan ALS dan penyakit neurodegeneratif lainnya.
"Berarti diagnosis dan terapi selama ini hanya berdasarkan kelainan otak, perlu ditambahkan untuk pemeriksaan infeksi usus dan menambahkan anti mikroba, khususnya anti mikroba fungicide," jelas Taruna dalam keterangannya kepada VIVA, Rabu 14 November 2018.
Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, studi ini melibatkan 82 pasien berusia di atas 18 tahun dengan rincian 54 pasien yang terdiri dari 24 pria dan 14 wanita didiagnosis terkena ALS sedangkan 28 pasien lainnya, yakni 14 pria dan 14 wanita tak menyandang ALS.Â