Dindikbud Banten Diminta Evaluasi Sistem Zonasi PPDB 2022

Ilustrasi pendaftaran PPDB
Sumber :
  • antara

VIVA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten, diminta mengevaluasi dan memperbaiki sistem proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2022 di tingkat SMA/SMK oleh Kader Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Kabupaten Tangerang, Sukardin.

img_title Pemerintah Putus Akses 7.908 Loker Luar Negeri Fiktif, Tak Ada Celah untuk Penipu

"Berdasarkan pantauan kami di lapangan sistem zonasi ini telah merampas hak anak untuk belajar di sekolah Negeri. Dan, sejak diterapkan-nya sistem zonasi ini mayoritas orangtua murid yang berdomisili jauh dari lokasi sekolah kerap dihantui rasa cemas dan ketakutan, karena anaknya secara otomatis tidak bisa menikmati pendidikan di sekolah Negeri," katanya di Tangerang, Ahad (19/6).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sukardin yang sekaligus Pemerhati Pendidikan ini mengatakan, pihaknya mendesak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dalam hal ini khususnya pemerintah provinsi Banten untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap penerapan PPDB zonasi tersebut. Karena selama ini para orang tua murid dibuat cemas dengan penerapan sistem tersebut.

img_title Dongkrak Literasi Masyarakat hingga Kepedulian terhadap Lingkungan, Begini Strategi Prudential Syariah

"Menurut saya sistem penerapan zonasi saat ini telah merampas hak anak untuk bisa belajar di sekolah negeri," tutur dia.

Menurutnya, pemerintah saat ini tampaknya belum siap dalam menerapkan sistem zonasi sekolah pada penerimaan peserta didik baru. Yang mana dari jumlah mendaftar di sekolah dengan penerimaan jumlah yang ada tidak sesuai ketersediaan gedung sekolah serta kuota.

img_title Nominal Hadiah Dipersoalkan, Pemerintah Siapkan Skema Baru untuk Siswa Berprestasi

Akibatnya, lanjut dia, para peserta didik pun yang bertempat tinggal jauh dari sekolah negeri harus menerima kekecewaan.

"Jumlah peserta didik baru tak sebanding dengan jumlah ruang belajar. Salah satu contohnya di wilayah Kabupaten Tangerang. Di daerah ini gedung sekolah SMA Negeri jumlahnya sangat minim, bayangkan satu kecamatan hanya satu SMA Negeri, sedangkan jumlah siswa yang mendaftar membludak," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menambahkan, dengan minimnya sarana dan prasarana pendidikan serta tingginya animo masyarakat yang ingin menyekolahkan anak- anaknya di sekolah negeri, maka dapat dipastikan akan membuka peluang para oknum untuk dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

"Saya mendapatkan informasi di lapangan bahwa ada indikasi praktik jual- beli kursi, dan harganya pun cukup fantastis bisa mencapai Rp10-15 juta per kursi untuk tingkat SMA Negeri. Ini harus disikapi serius oleh pemerintah, jangan sampai psikologis anak rusak gara-gara sistem zonasi ini," kata dia. (antara)

Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid (kedua dari kanan)

Program Anwar Hafid Beri Beasiswa S1 hingga S3 di Sulteng Jadi Inspirasi Daerah Lain

Langkah Gubernur Sulteng Anwar Hafid memperluas akses pendidikan melalui Program Berani Cerdas mulai membuka peluang bagi warga untuk menempuh pendidikan hingga S3

img_title
VIVA.co.id
7 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut