Menyelamatkan Makanan, Mengentaskan Kelaparan
- Pexels/rawpixel
Beberapa solusi telah mulai diterapkan oleh sejumlah restoran dan pegiat lingkungan untuk mengurangi dampak sampah makanan. Salah satunya adalah yang dilakukan Garda Pangan. Garda Pangan merupakan sebuah organisasi sosial yang didirikan oleh Kevin Gani pada tahun 2017 di Surabaya dan telah menjadi pionir dalam upaya penanganan sampah makanan dan ketidaksetaraan akses pangan.
Organisasi ini bekerja dengan konsep social enterprise, yang berarti tidak hanya berorientasi pada dampak sosial, tetapi juga memiliki model bisnis yang berkelanjutan. Fokus utama Garda Pangan adalah memanfaatkan makanan surplus dari restoran, hotel, dan pusat perbelanjaan yang masih layak konsumsi.
Makanan yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah ini dikumpulkan dan didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan, sehingga memberikan manfaat langsung bagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Sejak berdiri, Garda Pangan telah berhasil menyalurkan lebih dari 577.000 porsi makanan kepada hampir 28.000 penerima manfaat. Penerima manfaat ini terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak jalanan, pemulung, pekerja informal, hingga lansia. Setiap porsi makanan yang didistribusikan merupakan upaya untuk mendukung hak dasar masyarakat atas pangan yang layak dan sehat, sambil mengurangi jumlah makanan yang terbuang.
![]()
Garda Pangan mengorganisir tim relawan dan bekerja sama dengan berbagai restoran dan hotel untuk mengumpulkan surplus makanan setiap hari, memastikan bahwa makanan tersebut disalurkan dengan cepat dan aman kepada masyarakat yang membutuhkan.
Selain distribusi makanan surplus, Garda Pangan juga melakukan inovasi dalam pengelolaan sampah makanan yang tidak layak konsumsi. Dengan menggunakan teknologi biokonversi BSF (Black Soldier Fly), mereka mengolah sisa-sisa makanan menjadi pakan ternak yang bergizi.
Teknologi biokonversi ini melibatkan larva lalat BSF yang mampu menguraikan bahan organik dengan cepat, sehingga sisa makanan yang tidak dapat didistribusikan tidak berakhir di tempat pembuangan akhir, melainkan diubah menjadi produk yang bermanfaat.
Langkah ini terbukti mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 533.900 kg, karena pengolahan yang lebih efektif dan ramah lingkungan dibandingkan dengan pembusukan makanan di TPA yang menghasilkan metana, gas rumah kaca berbahaya.