Hacker Rusia Teror AS

Hacker
Sumber :
  • BusinessBlogs Hub

VIVA – Perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat (AS), FireEye, mengatakan hacker atau peretas menerobos jaringannya dan mencuri toolkit untuk menyelidiki sistem pelanggan dan menemukan celah keamanan pada awal pekan ini.

img_title Trump Ancam Bikin AS Defisit Perdagangan Jika The Fed Tak Pangkas Suku Bunga

"Peretasan dilakukan oleh sebuah negara dengan kemampuan ofensif tingkat tinggi. Saat ini kami sedang menyelidiki insiden tersebut," kata Kepala Eksekutif FireEye, Kevin Mandia, seperti dikutip USA Today, Senin, 14 Desember 2020.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Baca: Presiden AS Donald Trump Mati Akal Tundukkan China

img_title Iran Makin Berani Lawan AS, Bertekad Lanjutkan Konflik!

Meski begitu, ia mengatakan tidak ada tanda-tanda bahwa peretas telah menggunakan alat yang dicuri juga tidak ada bukti bahwa adanya informasi pelanggan yang dicuri.

FireEye telah mengembangkan lebih dari 300 tindakan pencegahan terhadap alat yang digunakan oleh pelanggan dan komunitas keamanan siber. "Para peretas mencari informasi yang berkaitan dengan pelanggan pemerintah tertentu," ungkap Mandia, tanpa menyebut pemerintah dari negara mana.

img_title Serangan AS Tewaskan Warga Sipil di Iran, Wapres AS Bilang 'Tak Sengaja'

Perusahaan keamanan siber yang berbasis di Milpitas, California, AS yang diperdagangkan secara publik ini memiliki lebih dari 9.600 pelanggan di seluruh dunia, termasuk lebih dari 1.000 lembaga pemerintah dan penegak hukum.

Sebagai pemain utama keamanan siber global, FireEye memiliki pengalaman memperbaiki celah keamanan yang dialami Sony dan Equifax, serta membantu Arab Saudi menggagalkan serangan siber industri minyak.

Dalam laporan lainnya disebutkan bahwa kelompok hacker pemerintah Rusia bertanggung jawab atas peretasan FireEye. Kejadian ini membahayakan departemen keuangan dan perdagangan serta lembaga pemerintahan AS lainnya.

Kelompok yang dikenal sebagai APT29 atau Cozy Bear itu bertanggung jawab atas peretasan Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih selama Pemerintahan Presiden Barrack Obama. Diyakini, para hacker tersebut juga menargetkan penelitian vaksin COVID-19.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pejabat pemerintah AS menganggap peretasan ini cukup mengerikan, sehingga Dewan Keamanan Nasional (NSC) menggelar pertemuan darurat di Gedung Putih. Juru bicara NSC mengatakan bahwa pemerintah mengetahui laporan tersebut dan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memperbaiki situasi.

Belum diketahui informasi apa saja yang telah dicuri atau pemerintah negara asing mana yang terlibat. Akan tetapi, para hacker ini mampu membobol perangkat lunak perkantoran NTIA, Microsoft Office 365, serta menipu kontrol otentikasi untuk memantau email staf selama berbulan-bulan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut