Perang Tiada Akhir Lawan Hoax
- ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
"Kominfo bersama KPCPEN melakukan upaya penanganan hulu hilir mulai dari literasi kepada masyarakat terkait COVID-19 dan vaksin, pemberian klarifikasi terhadap hoaks, pembuatan kanal resmi dan terpercaya, dan bekerjasama dengan pemangku kepentingan terkait, termasuk Polri untuk hukum dan penanganan hoax," ujar Johnny.
Langkah raksasa teknologi
Bukan hanya di Indonesia, hoax seputar COVID-19 juga menyerang secara global. Pada April, laporan dari organisasi nirlaba Avaaz mencatat 100 misinformasi terkait Virus Corona di Facebook yang dibagikan lebih dari 1,7 juta kali dan dilihat sekitar 117 juta kali.
Melihat data tersebut raksasa media sosial milik Mark Zuckerberg itu tak tinggal diam. Facebook telah mengambil sejumlah langkah untuk mencoba membendung misinformasi pada platformnya.
Pada 16 April, Facebook menambahkan label peringatan pada postingan tentang misinformasi ketika seseorang menyukai, berkomentar atau beraksi terhadap unggahan tersebut.
Berlanjut pada Mei, Facebook telah melakukan cek fakta dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) juga dibantu dengan manusia untuk menegakkan kebijakan komunitasnya.
Platform berbagi foto dan video milik Facebook, Instagram, juga melakukan beberapa langkah untuk mengurangi penyebaran hoax yang berkaitan dengan Virus Corona dan COVID-19.
Instagram menghapus hoax dan misinformasi tentang virus corona agar ketika pengguna mengetuk tanda pagar yang terkait wabah tersebut mendapatkan informasi dari sumber resmi seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun otoritas kesehatan setempat.
Platform ini juga memblokir tagar yang digunakan untuk menyebarkan hoaks dan misinformasi soal COVID-19. Selain itu Instagram bekerja sama dengan pengecek fakta pihak ketiga untuk memverifikasi informasi dan memberi label pada informasi tersebut.
Hal serupa juga dilakukan Twitter, yang menghadirkan label dan peringatan untuk cuitan-cuitan yang mengandung misinformasi atau fakta yang diperdebatkan kebenarannya soal COVID-19.
Label tersebut akan muncul di bagian bawah tulisan, berisi tautan ke laman berisi fakta yang dikurasi tim Twitter atau laman dari sumber-sumber terpercaya. Untuk menjauhkan pengguna dari informasi palsu, YouTube telah melarang konten yang bertentangan dengan temuan WHO.
Platform milik Google itu juga memperkuat kemunculan konten resmi di seluruh dunia. Sementara, Google sendiri menampilkan halaman hasil pencarian yang dikuratori oleh WHO, berisi tips aman dan berita terkini, berupa box alert yang memiliki tujuan untuk membuat informasi darurat lebih mudah diakses pengguna saat terjadi situasi krisis.