Malaysia Susul Indonesia
- Freepik
Jakarta, VIVA – Malaysia menyusul Indonesia dalam hal menangguhkan akses ke chatbot Grok milik Elon Musk karena konten pornografi yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI).
Keputusan tersebut menyusul reaksi global setelah terungkap bahwa fitur pembuatan gambar Grok memungkinkan pengguna untuk menseksualisasi gambar wanita dan anak-anak menggunakan perintah teks sederhana.
Sebelumnya, Indonesia menjadi negara pertama yang menolak semua akses ke Grok milik Elon Musk tersebut pada 10 Januari pekan lalu, yang telah dibatasi untuk pelanggan berbayar di tempat lain.
Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah "mengarahkan pembatasan sementara akses ke kecerdasan buatan Grok untuk pengguna di Malaysia" dengan segera.
"Tindakan ini menyusul penyalahgunaan Grok yang berulang untuk menghasilkan gambar yang cabul, eksplisit secara seksual, tidak senonoh, sangat menyinggung, dan dimanipulasi tanpa persetujuan," kata MCMC, seperti dikutip dari situs CNA, Senin, 12 Januari 2026.
Pernyataan tersebut mengutip "konten yang melibatkan wanita dan anak di bawah umur, meskipun ada keterlibatan regulasi sebelumnya dan pemberitahuan resmi" yang dikeluarkan kepada X Corp milik Elon Musk dan startup xAI yang mengembangkan Grok.
Alat AI tersebut terintegrasi ke dalam platform media sosial X. Regulator Malaysia mengatakan pihaknya menilai pengamanan platform tersebut tidak memadai, dan menambahkan bahwa akses hanya akan dilanjutkan setelah perubahan yang diperlukan diverifikasi.
X Corp "gagal mengatasi risiko inheren yang ditimbulkan oleh desain dan pengoperasian alat AI", dan "terutama mengandalkan mekanisme pelaporan yang diprakarsai pengguna", kata regulator tersebut.
Para pejabat Eropa dan aktivis teknologi pada 9 Januari lalu mengecam Grok setelah fitur pembuatan gambar kontroversialnya dibatasi untuk pelanggan berbayar, dengan mengatakan perubahan tersebut gagal mengatasi kekhawatiran tentang deepfake yang berbau seksual.
Grok tampaknya menangkis kritik tersebut dengan kebijakan monetisasi baru, dengan memposting di X pada 8 Januari 2026 bahwa pembuatan dan pengeditan gambar sekarang "dibatasi untuk pelanggan berbayar", bersamaan dengan tautan ke langganan premium.