Nyawa Saldo Rekening Anda Terancam AI

Kantor Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) di Sawangan, Depok, Jawa Barat.
Sumber :
  • VIVA/Muhammad Naufal

Jakarta, VIVA – Pesatnya perkembangan ekonomi digital di Tanah Air memberikan dampak positif terhadap kenyamanan masyarakat dalam bertransaksi keuangan. Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi pembayaran digital mencapai 14,82 miliar transaksi pada kuartal I 2026, meningkat 37,69 persen dari periode yang sama tahun lalu.

img_title Ini Agenda Besar Indonesia dan China 2027-2031

Di tengah pesatnya pertumbuhan tersebut, ancaman kejahatan siber pun kian meningkat. Para fraudster kini bahkan telah memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk melancarkan aksinya dengan lebih canggih dan sulit terdeteksi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Badan Siber dan Sandi Negara atau BSSN mencatat bahwa sepanjang tahun 2025 terdapat 5,2 miliar trafik internet yang berpotensi menjadi jalur serangan siber — 94 persen di antaranya merupakan malware dengan risiko tinggi bertransformasi menjadi serangan ransomware.

img_title Polda Metro Panggil AMPB Supriyono, OJK Hingga Kemensos Soal Rekening Rp80,9 Juta yang Bikin Geger

Wakil Ketua Umum II Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Budi Gandasoebrata, menyoroti kondisi ekosistem pembayaran digital saat ini. Menurutnya, keamanan, ketahanan infrastruktur, dan manajemen risiko merupakan pondasi utama dalam membangun sistem pembayaran yang sehat dan berkelanjutan.

“Industri tidak lagi hanya dituntut untuk tumbuh cepat tetapi juga harus tumbuh resilient. Dan dalam konteks tersebut, Fraud Detection System atau FDS saat ini bukan lagi sekadar fitur pendukung, melainkan infrastruktur krusial bagi industri keuangan digital,” ungkapnya, Sabtu, 23 Mei 2026.

img_title AI Sekarang bisa Meretas dalam 31 Detik Tanpa Bantuan Manusia

Pada kesempatan yang sama, Kepala Direktorat Pembelaan Hukum Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tri Herdianto, menyoroti tantangan yang dihadapi oleh pelaku industri di sektor jasa keuangan semakin kompleks.

"Perkembangan transaksi digital di Indonesia menunjukan peningkatan yang signifikan didorong oleh semakin luasnya penggunaan e-wallet, termasuk QRIS. Peningkatan yang signifikan ini tentu dibarengi dengan ancaman yang makin kompleks, baik dari sisi metode maupun skala," jelas dia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kesiapan industri dalam memperkuat keamanan transaksi digital saat ini menjadi sangat krusial. Industri harus memahami bahwa fraud resilience bukan lagi sekadar isu teknis atau teknologi, melainkan pilar utama dalam menjaga trust dari masyarakat dan memastikan keberlanjutan bisnis di sektor jasa keuangan.

Senada, Direktur Utama Jalin, Ario Tejo Bayu Aji, menyebut bahwa landskap ancaman yang kini mengintai platform pembayaran digital menuntut pendekatan keamanan yang bersifat kolektif melalui penguatan shared services & infrastructure di bidang fraud management.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut